Jumat, 22 April 2011

** Kau pun Enggan Meninggalkannya ( Arti Sebuah Ketulusan ) **

Bismillahirrahmanirrahim..

Hidup kami yang serba ada, bahkan terkesan sangat berlebih, tiba-tiba berbalik seratus enam puluh derajat. Yang tadinya kami bisa makan apapun yang kami mau, kini untuk makan satu hari sekali pun kami belum tentu bisa.

Ini semua karna ada pekerja Bapak yang membawa lari semua aset perusahaan, akibatnya semua harta kami harus diambil untuk membayar gaji karyawan. Hanya tinggal sisa-sianya saja yang mampu membuat kami bertahan, walapun dengan keadaan yang jauh dari sebelumnya.

“ Bunda, apa kita akan terus seperti ini? Gimana dengan kuliahku? “ kataku mulai merajuk.

“ Sabar yaa sayang, Bapakmu sedang merintis usahanya kembali dari awal. Insyaallah, nanti kalau usaha Bapak sudah maju, kamu bisa kuliah lagi,” Bunda menenangkanku.

“ Tapi kapan Bunda, belum tentu tahun depan atau tahun depannya lagi kan,”

“ Kamu mau kan Allah tetap mendampingimu dalam setiap keadaan?” aku mengangguk.

“ Allah selalu bersama orang-orang yang sabar, jadi bagaimana mungkin kamu mau selalu bersama Allah kalau kamunya ndak mau sabar,Nak, “ kata Bunda lagi.

Bunda, kau selalu begitu sabar dan tabah, padahal aku tahu hatimu menjerit ketika aku dan adik-adik bertanya-tanya tentang keadaan kita. Dalam setiap sujudmu, aku sering mendengar kau mendoakan kami dalam derai air mata ketulusan. Bahkan dengan keadaan seperti ini, kau tulus mendampingi Ayah tanpa mengeluh.

Aku segera memeluk Bunda, memohon maaf atas khilaf dan keegoisanku. Tetesa air mataku segera dihapus dengan punggung tangannya. Dia tersenyum begitu manis padaku.

Ternyata tak perlu waktu yang sangat lama, perlahan tapi pasti kehidupan kami semakin meningkat. Ayah berhasil merintis usahanya kembali meskipun tak seperti dulu, ini berkat kegigihan, do’a, dan yang terpenting kami yakin Allah selalu bersama-sama kami.

Namun tiba-tiba saja, aku dikejutkan dengan sebuah SMS dari adikku, bahwa Bunda dibawa ke Rumah Sakit. Bunda terjatuh di kamar mandi, kondisinya tak sadarkan diri. Dengan derai air mata, aku segera menuju Rumah Sakit.

“Ayah, gimana keadaan Bunda?” ku lihat ada perban kecil didahinya.

“ Ndak apa-apa,Nak. Bunda tadi kepleset di kamar mandi, terus kebentur kepala Bunda di dinding Bak Mandi. Untungnya, ada adikmu yang melihat. Sekarang Bunda lagi istirahat jangan diganggu dulu “

Lega rasanya Bunda tidak mengalami luka serius. Aku melihat Ayah dalam keletihannya setelah pulang bekerja, masih sempat memperhatikan Bunda dengan teliti.

Aku lihat kemesraan yang sama dari dulu sampai sekarang, tak ada yang berubah dari mereka. Ayah begitu tulus menyuapi Bunda, bahkan menuntun Bunda ke kamar mandi. Aku jadi berharap, suatu saat aku ingin punya suami setulus Ayah, tapi apakah masih ada ?

“ Nia, ngelamun saja. Tolong bantuin Bunda duduk ,” kata Bunda membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum .

“ Bunda, Ayah kok mesra terus yaa sama Bunda? Nia bisa nggak yaa dapetin suami yang tulus, mau berbagi dalam keadaan apapun” tanya ku dengan wajah yang bersemu merah.

“ Ndak mudah untuk mencari suami yang tulus Nia, tapi lebih mudah kalau kamu yang membuat suamimu nanti menjadi orang yang tulus dan mau berbagi,” Bunda tersenyum menyiratkan sebuah arti. Aku mengerutkan dahi, tanda bingung dengan perkataan Bunda.

“ Mulai dengan dirimu sendiri Nia, buatlah dirimu tulus menerima suamimu nanti. Insyaallah dia akan berbalik tulus terhadapmu. Lihatlah Ayahmu,Nak. Bunda mencoba untuk selalu tulus padanya, mau berbagi disetiap keadaan, selalu bersamanya dan mendampinginya, Bunda enggan meninggalkannya dalam keadaan apapun. Kini kamu bisa lihat Ayahmu, dia pun enggan meninggalkan Bunda meskipun Bunda dalam keadaan seperti ini “

Aku terpana, terkejut dengan jawaban Bunda. Tak pernah aku berpikir sedikitpun tentang memulai dari diri sendri, yang aku pikir hanya keinginanku untuk mencari pasangan yang ‘sudah jadi’ dengan apa yang ku harapan.

Wallahua’lam bish Shawab.

http://www.bukanmuslimahbiasa.com/2011/02/kau-pun-enggan-meninggalkannya-arti-sebuah-ketulusan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar