Tampilkan postingan dengan label oase iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oase iman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

bahkan jantung kita pun bukan milik kita

Di tengah-tengah sebuah training yang saya ikuti, sang trainer memberikan arahannya.

"Letakkan kedua tangan kalian di dada kalian masing-masing!" seorang trainer memulai instruksinya.
"Letakkan, trus, dan rapat hingga kalian merasakan detak jantung kalian masing-masing!" lanjut beliau.

Aku pun menuruti kata-katanya, kuletakkan kedua tanganku perlahan ke atas dadaku.

Kucari-cari sebentar, dan akhirnya terasalah detak jantungku.

Aku pun menunggu instruksi selanjutnya.

"Letakkan dan rasakan detak jantung Anda..!!" begitu instruksi beliau, "Jika sudah terasa, sekarang katakan kepada jantung Anda, Berhenti..!!"

Aku pun agak bingung dengan instruksi tersebut namun tak urung kulakukan juga.

"Katakan, dan perintahkan kepada jantung Anda untuk berhenti!, katakan pada ia untuk berhenti!!"

"Tidak mungkin!!' teriakku dalam hati, "Tidak mungkin bisa!!"

entah, apakah trainer tersebut mendengar apa yang kami rasakan, ia pun melanjutkan kata-katanya..

"Lihatlah.. rasakanlah..!! bahkan jantung kita pun bukan milik kita...!!",

Seketika itu pula, Degg, diri ini kontan tersadar apa maksud dari semua ini.

Ya Rabb,begitu sering diri ini lupa, bahkan jantung, apa yang ada di dalam diri kita ini sekalipun.. bukan milik kita.

***

Ah, padahal begitu sering kita merasa bahwa kita ada diatas segala-galanya.

Seringkali manusia memandang orang lain lebih rendah, lebih buruk, lebih jelek, ataupun pandangan-pandangan yang semacamnya. Sering kali pula manusia merasa sangat berkuasa, seolah-olah hidup dan mati orang lain berada di tangannya, tanpa sadar bahwa hidupnya sendiri sekalipun, atau bahkan tubuh nya sendiri pun, bukanlah miliknya...

Seorang teman bercerita tentang dirinya.

Ia seorang mahasiswa di Ilmu komputer.

Pernah suatu ketika, ia sedang menyelesaikan sebuah tugas program yang dirasa cukup sulit.

Saking sulitnya seolah-olah tak banyak dari teman sekelasnya yang bisa mengerjakan.
Ketika ia benar-benar selesai mengerjakan program tersebut, entah karena gembira atau apa, ia pun langsung ber pekik, "Saya Pintar..!!"

Kontan teman disebelahnya langsung menepuk teman ini dengan keras. `Pak!!'Teman yang memukul ini pun berkata, "Kamu jangan sombong, apa yang kamu miliki ini tidak ada apa-apanya..!, ini semata-mata dari Allah SWT" Kontan teman yang satu ini pun terdiam, ia beristighfar...

Teman, akankah kita menunggu sebuah pukulan keras dari sang Pencipta untuk menyadarkan kita?

Sungguh, sekali-kali kita tidak akan dibiarkan dengan kesombongan kita..

Titanic, kapal terbesar di era awal abad ke 20. mampu mengangkut 3000 penumpang dari Inggris ke Amerika Serikat.

Memiliki teknologi tercanggih saat itu.

Sebuah contoh kesombongan ummat manusia dari perkataan pemiliknya,

"Jangankan tujuh samudera, bahkan Tuhan pun tidak akan mampu menenggelamkan kapal ini!"

Maka di sebuah malam yang dingin, di pelayaran perdananya, kapal ini menabrak sebuah gunung Es.

Kapal besar ini pun tenggelam membawa ribuan penumpangnya, beserta kesombongan yang dibawanya..

Begitulah ketika sang pencipta ingin menunjukkan kekuasaanNya atas manusia.

Untuk menyadarkan bahwa betapa kecil sebenarnya manusia.
Betapa lemah dan tak berdaya-nya seorang manusia.

Lantas jika begini, sampai kapan kita harus menunggu kehancuran karena kesombongan kita?

Akankah kita menunggu datangnya adzab untuk menyadarkan kita?

Paman saya pernah mengatakan, bahwa kehancuran manusia ada pada saat ia mulai sombong dengan apa yang dimilikinya.

Ketika manusia berada pada titik tersebut, maka Allah akan membalik keadaannya.

Sumber: Milis Airputih (airputih@yahoogroups.com)

Minggu, 08 Juli 2012

Mendulang Faidah dari Kalimat Dzikir Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil

Alhamdulillah, wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi.

Kalimat ini termasuk dzikir sederhana, namun mengandung makna yang luar biasa. Dzikir ini menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah pada Allah dan menjadikan-Nya sebagai tempat bersandar.

Allah Ta’ala menceritakan mengenai Rasul dan sahabatnya dalam firman-Nya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. ” (QS. Ali ‘Imron: 173)

Kata sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di api. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563)

Renungkanlah Maknanya!

Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir berkata bahwa maksud “hasbunallah” ialah Allah-lah yang mencukupi segala urusan mereka. Sedangkan “al wakiil“, kata Al Faro’ berarti orang yang mencukupi. Demikian pula kata Ibnul Qosim. Sedangkan Ibnu Qutaibah berkata bahwa makna “al wakiil” adalah yang bertanggung jawab (yang menjamin). Al Khottobi berkata bahwa “al wakiil” adalah yang bertanggung jawab memberi rizki dan berbagai maslahat bagi hamba.

Dalam tafsir Al Jalalain disebutkan makna dzikir di atas ialah Allah-lah yang mencukupi urusan mereka dan Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar dalam segala urusan.

Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya memaparkan, “Maksud ‘hasbunallah‘ adalah Allah-lah yang mencukupi urusan mereka dan ‘ni’mal wakiil’ adalah Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar segala urusan hamba dan yang mendatangkan maslahat.”

Syaikh Al Imam Al ‘Arif rahimahullah berkata bahwa dalam hadits di atas adalah isyarat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada para sahabatnya agar mereka rujuk (kembali) pada Allah Ta’ala, bersandar pada-Nya, sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari-Nya. … Kalimat “hasbunallah” adalah tanda bahwa hamba benar-benar butuh pada Allah dan itu sudah amat pasti. Lalu tidak ada keselamatan kecuali dari dan dengan pertolongan Allah. Tidak ada tempat berlari kecuali pada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. ” (QS. Adz Dzariyat: 50) (Bahrul Fawaid karya Al Kalabadzi)

Allah-lah Yang Mencukupi

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3). Al Qurtubhi rahimahullah menjelaskan pula tentang surat Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, “Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa menyandarkan diri pada sesuatu, maka hatinya akan dipasrahkan padanya” (HR. Tirmidzi no. 2072, hadits ini hasan kata Syaikh Al Albani). Artinya di sini, barangsiapa yang menjadikan makhluk sebagai sandaran hatinya, maka Allah akan membuat makhluk tersebut jadi sandarannya. Maksudnya, urusannya akan sulit dijalani. Hati seharusnya bergantung pada Allah, bukan pada makhluk. Jika Allah menjadi sandaran hati, tentu urusan akan semakin mudah.



Ya Allah … Engkau-lah yang mencukupi segala urusan kami, tahu manakah yang maslahat dan yang mengatur segala rizki kami.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.



Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 21 Dzulqo’dah 1432 H (19/10/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

www.muslim.or.id

Selasa, 06 Desember 2011

Kalimat Pengusir Maksiat

Seorang ulama terkemuka, Imam Sahl bin Abdullah Al-Tastari menuturkan kisah dirinya, “Ketika berumur tiga tahun, aku ikut pamanku yaitu Muhammad bin Sanwar untuk melakukan qiyamullail. Aku melihat cara shalat pamanku dan aku menirukan gerakannya.

Suatu hari, paman berkata kepadaku, ‘apakah kau mengingat Allah, yang menciptakanmu?’

Aku menukas, ‘Bagaimana caranya aku mengingatnya?’

Beliau menjawab,’ Anakku, jikau kau berganti pakaian dan ketika hendak tidur, katakanlah tiga kali dalam hatimu, tanpa menggerakkan lisanmu, ‘ Allahu ma’i... Allahu naadhiri...Allahu syaahidi!’ (artinya , Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikan aku!)

Aku menghafalkan kalimat itu, lalu mengucapkannya bermalam-malam. Kemudian, aku menceritakan hal itu kepada paman.


Pamanku berkata.’ Mulai sekarang, ucapakan dzikir itu sepuluhkali setiap malam.’



Aku melakukannya, aku resapi maknanya, dan aku meraskan ada kenikmatan dalam hatiku.Pikiran terasa terang. Aku merasa senantiasa bersama Allah SWT.

Satu tahun setelah itu, paman berkata,’ Jagalah apa yang aku ajarkan kepadamu,dan langgengkanlah sampai aku masuk kubur. Zikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan ddi akhirat.

Lalu, pamanku berkata, ‘Hai Sahl, orang yang merasa selalu disertai Allah, dilihat Allah, dan disaksikan Allah, akankah dia melakukan maksiat?’

Kalimat Allahu ma’i . Allahu naadhiri, Allahu syaahidi ! sangat terkenal dikalangan ulama arifbillah. Bahkan, Syeikh Al-Azhar , Imam Abdul Halim Mahmud, yang dikenal sebagai ulama yang arif billah menganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menancapkan kalimat ini di dalam hati. Maknanya yang dahsyat, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rasa ma’iyatullah (selalu merasa disertai, dilihat, dan saksikan oleh Allah SWT, dimana dan kapan saja)

Pada akhirnya, rasa ini akan menumbuhkan takwa yang tinggi kepada Allah SWT . Kalau sudah begitu, apakah orang yang merasa selalu disertai, dilihat, dan disaksikan Allah akan melakukan maksiat.

Ayoh sahabatku, coba kita amalkan kalimat-kalimat itu agar terhindar dari terhindar dari perbuatan maksiat.

buku Ketika cinta Berbuah Surga dengan sedikit perubahan

Rabu, 30 November 2011

IMAN DAN AL- QUR’AN: CAHAYA ALLAH DI HATI ORANG BERIMAN

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan- akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya) yang minyaknya (saja) hampir- hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis- lapis), Allah membimbing kepada cahaya- Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(Annisa : 35)
Cahaya adalah makhluk Allah yang dibutuhkan oleh kehidupan semua makhluk yang ada di alam semesta ini. Manusia dan semua makhluk hidup tidak akan bertahan hidup tanpa cahaya matahari. Keindahan apapun di dalam kehidupan ini tidak akan terlihat, kecuali setelah tersinari oleh cahaya, dan sebagai manusia, mustahil dapat beraktifitas tanpa cahaya.
Untuk itulah, Allah menekankan pentingnya kalimat cahaya, agar semua petunjuk- petunjuk Allah akan bersinar bagaikan terangnya cahaya yang menerangi ufuk langit dan bumi. Gambaran ayat di atas menerangkan bagaimana cahaya petunjuk Allah menyinari kehidupan manusia, yang menggetarkan segenap perasaan, akal, hati, dan anggota tubuh manusia, agar menyatu dengan seluruh makhluk Allah bersama luapan cahaya Allah.
Dengan cahaya itulah manusia akan dijamin hidup dalam kesucian, terlepas dari beban beratnya kehidupan, mampu tinggal landas manuju kepada kehidupan yang lebih tinggi, yang semuanya dihiasi dengan keindahan ukhuwah, kebahagiaan, dan ketenangan jiwa.
Ibnu Abbas menjelaskan, “Allah adalah pemberi petunjuk kepada semua makhluk yang ada di langit dan bumi. Allahlah yang mengurus bintang- bintang, matahari, dan bulan.” Ubay bin Ka’ab, “Itulah seorang muknin yang telah Allah jadikan iman dan Al- Qur’an dalam dadanya. Maka, Allah jadikan perumpamaan semisalnya, dengan memulai cahaya diri-Nya, kemudian menyebutkan cahaya orang yang beriman. Maka, maksud ayat di atas, perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada Allah adalah orang yang beriman yang telah menjadikan iman dan Al- Qur’an dalam dadanya.”
Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Dan begitulah perumpamaan cahaya-Nya. Kata ganti cahaya- Nya di ayat ini bisa dipahami dengan dua pemahaman, Pertama, kembali kepada Allah, yakni cahaya Allah seperti petunjuk Allah di hati orang yang beriman. Kedua, kembali kepada orang yang beriman sesuai konteks pembicaraan. Jadi, pemahamannya ialah perumpamaan cahaya orang yang beriman di dalam hatinya bagaikan Zujajah (kaca, yang jernih berkilau bagiakan bintang). Sedangkan Al-Qur’an dan syariat diumpakan dengan minyak zaitun, yang aslinya sudah berkilau dengan sendirinya tanpa unsur eksternal.
1. Cahaya adalah seseuatu yang paling dibutuhkan oleh manusia
Dan Al- Qur’an itulah sebagai cahaya Allah yang sudah seharusnya menjadi sesuatu yang dibutuhkan manusia, sebagaimana makhluk hidup apa pun akan mati tanpa cahaya. Jadi, manusia pasti akan mati tanpa Al- Quan, sebelum mati secara biologis. Karena tanpa Al- Qur’an akan menciptakan kehidupan yang gelap, menabrak kanan kiri tanpa arah yang jelas.
2. Dengan cahaya Al- Qur’an, semua tantangan hidup akan teratasi
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah pribadi yang telah membuktikan peran efektif cahaya Allah ini (Al- Qur’an) dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berat, yakni ketika berdakwah di Thaif dilempari batu oleh masyarakat. Saat itu beliau berdoa :
“Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari dengannya semua kegelapan, dan akan menjadi baik di atas sinar itu seluruh urusan dunia dan akhirat.”
Dan saat pulang dari Mi’raj, Rasulullah SAW ditanya oleh Aisyah, “Apakah kamu melihat Rabbmu?” Rasulullah SAW menjawab, “Dia adalah cahaya, bagaimana aku bisa melihatNya.”
3. Ayat di atas merupakan perumpamaan yang aksiomatik bagi manusia
Untuk itulah, Allah jelaskan kepada manusia dengan wahyu- Nya. Namun, Allah Mahatahu manusia manakah yang berhak mendapat cahaya hidayah Allah, dengan yang tidak berhak. Rasulullah SAW memberikan gambaran jenis- jenis manusia yang mendapat hidayah dengan yang tidak,
“Hati manusia itu ada empat jenis: (1) Hati yang bersih bagaikan lampu yang bersinar terang. Inilah hati orang yang beriman yang di balik terangnya terdapat cahaya. (2) Hati yang tertutup terikat kuat oleh penutupnya. Inilah hati orang kafir. (3) Hati yang terbalik yakni hati orang yang munafik yang kondisinya mengetahui kebenaran tapi mengingkarinya. (4) Hati yang terkuak, yaitu hati yang di dalamnya ada sifat iman dan kemunafikan. Dan perumpamaan iman adalah seperti tanaman yang terus tersirami oleh air yang jernih. Sedangkan perumpamaan kemunafikan seperti borok yang terus mengeluarkan darah dan nanah; mana saja dari dua materi itu lebih dominan, maka akan mengalahkan yang tidak dominan.” (HR. Ahmad dengan isnad yang bagus)
(Dikutip dari buku 64 Bekal Hidup Wanita Muslimah, karya Abdul Azis Abdur Ra’uf, halaman 187-195, 2009, Markaz Al- Quran, Jakarta)

Senin, 28 November 2011

SURGA DAN NERAKA MEMBUAT LUPA PENGALAMAN HIDUP DI DUNIA

Allah menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai senda gurau dan permainan belaka. Sementara kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang sebenarnya. Artinya, Allah mengkondisikan kita untuk memandang dunia dengan santai tidak terlalu serius. Karena di dunia ini tidak ada keadaan yang benar-benar bisa dikatakan bahagia atau sebaliknya sedih. Di dunia ini tidak ada keberhasilan hakiki maupun kegagalan sejati. Segala sesuatu di dunia ini bersifat fana alias sementara. Kadang seseorang bahagia kadang seseorang sedih. Kadang ia berhasil kadang ia gagal. Itulah dunia dengan segala tabiat sementaranya.



Sebaliknya dengan kehidupan dunia, kehidupan akhirat merupakan kehidupan sejati. Tidak ada orang berbahagia di akhirat untuk jangka waktu singkat saja. Dan tidak ada pula yang mengalami penderitaan sementara saja, kecuali Allah menghendaki selain itu.



“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut ayat 64)

Allah ta’aala menghendaki agar orang bertaqwa memandang kehidupan akhirat dengan penuh kesungguhan karena di sanalah kehidupan sejati akan dijalani manusia. Sedangkan terhadap dunia Allah ta’aala menghendaki orang bertaqwa agar berlaku proporsional saja dan tidak terlampau ngoyo dalam meraih keberhasilannya. Sebab kehidupan dunia ini Allah ta’aala gambarkan sebagai tempat dimana orang sekedar bermain-main dan bersenda-gurau.



Namun dalam kehidupan kita dewasa ini kebanyakan orang malah sangat serius bila menyangkut urusan kehidupan dunia. Mereka siap mengerahkan tenaga, fikiran, dana dan waktu all out untuk menggapai keberhasilan duniawinya. Sedangkan bila menyangkut urusan akhirat mereka hanya mengerahkan tenaga dan waktu sisa, fikiran sampingan serta dana receh. Jika hal ini terjadi kepada kaum kafir alias tidak beriman kita tentu bisa maklumi. Tapi di dalam zaman penuh fitnah ini tidak sedikit saudara muslim yang kita saksikan bertingkah dan berpacu merebut dunia laksana kaum kafir. Allah memang menggambarkan bahwa kaum yang tidak beriman sangat peduli dan faham akan sisi material kehidupan dunia ini. Namun mereka lalai dan tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kehidupan akhirat.





“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7)



Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: ”Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya”. Sungguh tepat ungkapan beliau ini. Sebab kelak di akhirat nanti manusia akan menyadari betapa menipunya pengalaman hidupnya sewaktu di dunia. Baik sewaktu di dunia ia menikmati kesenangan maupun menjalani penderitaan. Kesenangan dunia sungguh menipu. Penderitaan duniapun menipu.



Saat manusia berada di alam akhirat barulah ia akan menyadari betapa sejatinya kehidupan di sana. Kesenangannya hakiki dan penderitaannya sejati. Surga bukanlah khayalan dan sekedar dongeng orang-orang tua di masa lalu. Begitu pula dengan neraka, ia bukan suatu mitos atau sekedar cerita-ceirta orang dahulu kala. Surga dan neraka adalah perkara hakiki, saudaraku. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan dengan deskripsi yang sangat kontras dan ekstrim mengenai betapa berbedanya tabiat pengalaman hidup di dunia yang menipu dengan kehidupan sejati akhirat. Perhatikanlah baik-baik hadits di bawah ini:



“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: ”Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: ”Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (HR Muslim 5018)

Mengapa orang pertama ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kebaikan serta merasakan suatu kenikmatan, padahal ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah paksa dia merasakan derita sejati neraka –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala kenikmatan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Sebaliknya, mengapa orang kedua ketika Allah tanya menjawab bahwa ia tidak pernah melihat suatu kesulitan atau merasakan suatu kesengsaraan, padahal ia orang yang paling susah hidupnya sewaktu di dunia dibandingkan segenap manusia lainnya? Jawabannya: karena Allah telah izinkan dia merasakan kesenangan hakiki surga –sejenak saja- cukup untuk membuat ingatannya akan segala penderitaan palsu yang pernah ia alami sewaktu di dunia terhapus begitu saja dari ingatannya. Subhaanallah wa laa haula wa laa quwwata illa billah...!!!



Saudaraku, sungguh kehidupan dunia ini sangat tidak pantas kita jadikan ajang perebutan dan perlombaan. Sebab menang di dunia pada hakikatnya hanyalah menang yang menipu. Demikian pula sebaliknya, kalah di dunia hanyalah kalah yang menipu. Saat manusia diperlihatkan surga dan neraka di akhirat kelak, sadarlah ia betapa naifnya perlombaan merebut keberhasilan dunia ini dibandingkan dengan kenikmatan hakiki dan abadi surga yang jauh labih patut ia kejar dan usahakan semaksimal mungkin. Sadarlah ia betapa lugunya ia saat di dunia berusaha mengelak dari segala derita dan kesusahan dunia jika dibandingkan dengan derita sejati dan lestari neraka yang jauh lebih pantas ia berusaha mengelak dan menjauh darinya.



Pantas bila Allah gambarkan bahwa saat sudah dihadapkan dengan azab neraka orang-orang kafir bakal berharap mereka dapat menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka sanggup. Tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya.





“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (QS Al-Maaidah ayat 36)

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia puncak cita-cita kami dan batas pengetahuan kami. Amin ya Rabb.-



Sumber : http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/surga-dan-neraka-membuat-lupa-pengalaman-hidup-di-dunia.htm

http://wirausahapesantren.blogspot.com/2010/08/surga-dan-neraka-membuat-lupa.html

kematian orang beriman

Keyakinan orang beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian. Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda:



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi 2229)





Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah ta’aala:



وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ



“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)



Pantas bilamana Ali radhiyallahu ’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, dan tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada amal.”



Bagaimanakah kematian orang beriman? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:



عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ



“Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886)



Penulis produktif Aidh Al-Qarni menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar bahwa dirinya sudah mendekat maut serta tidak mungkin bisa lari darinya. Jadi, siapkan diri untuk menemui Allah. Karena itu, sudah sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan memperbanyak amal kebaikan sehingga dapat berjumpa dengan Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.”



Ambillah keteladanan dari kematian Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh tersungkur bersimbah darah. Dalam keadaan seperti itu ia tidak ingat isteri, anak, harta, keluarga, sanak saudara atau kekuasaannya. Yang ia ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya: ”Siapakah yang telah menikamku?”

”Kau ditikam oleh Abu Lu’luah Al-Majusi.”

Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah bersujud kepada-Nya walau hanya sekali.” Umar-pun mati syahid.



Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul maut beliau mengambil secarik kain dan menaruhnya di wajah beliau karena parahnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu beliau berdoa:



لا إله الا الله... لا إله الا الله... لا إله الا الله إن للموت لسكرات...

اللهم أعني على سكرات الموت... اللهم خفف علي سكرات الموت



“Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakratul maut itu buatku.” (HR Bukhary-Muslim)

Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu meletakkannya di atas wajah beliau seraya berdoa:



اللّهُمَّ أَعِنيِّ عَلىَ سَكَرَاتِ الْمَوتِ



”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.”

Saudaraku, marilah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja. Kematian yang sungguh mengandung kepedihan bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada seorangpun yang tidak bakal merasakan kepedihan sakratul maut.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185)



Marilah saudaraku, kita mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan segera bertaubat memohon ampunan dan rahmat Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang kafir. Suatu bentuk kematian yang diwarnai penyesalan yang sungguh terlambat.



حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا

فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ



“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)

Yakinlah! Yakinlah Kepada-Nya

dakwatuna.com – Kunci tauhid itu satu: YAKIN.

YAKIN bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa terhadap apa yang terjadi di dunia ini

YAKIN bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, itu semua dikehendaki oleh Allah

YAKIN bahwa Allah menghendaki kebaikan dan keburukan yang menimpa diri kita dengan suatu tujuan

YAKIN bahwa dalam setiap kejadian yang menimpa kita, itulah keputusan terbaik dari-NYA setelah ikhtiar terbaik yang kita lakukan

YAKIN bahwa doa maupun jeritan hati kita didengar oleh Allah karena DIA begitu dekat

YAKIN bahwa doa adalah senjata ampuh kaum mukmin

Setelah mengikuti acara UI Bertauhid yang diisi oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai kontemplasi akhir tahun Masehi, yang diadakan pada Selasa, 28 Desember 2010, di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Depok, aku menjadi semakin yakin bahwa memang keyakinan terhadap Rabb itulah yang membuat hidup seseorang menjadi tenang. Jika mendapatkan ujian kesulitan, bersabarlah sedangkan jika mendapatkan ujian kenikmatan maka bersyukurlah. Ya! Memang seharusnya dua hal itulah yang dilakukan kaum mukmin dalam menjalani roda kehidupan ini: bersabar dan bersyukur. Apapun yang terjadi pada diri kita, semua itu dikehendaki oleh Allah. So, jangan pernah takut menjalani hidup, ada Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Mintalah padaNYA niscaya DIA akan mendengarkan segala pinta.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Sejatinya, hidup ini adalah sebuah perjalanan dari satu ujian menuju ujian berikutnya. Entah itu berupa ujian kesulitan maupun ujian kenikmatan. Setiap kita yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja, masing-masing diri kita akan diuji sesuai kadarnya masing-masing, bahkan Allah akan menguji di titik terlemah kita. Ujian itulah yang akan membuktikan keimanan kita, apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku beriman padahal ternyata keimanan kita hanyalah dusta.

Selepas dari kajian Aa Gym ini, aku langsung mendapatkan ujian berkaitan dengan keyakinan pada Allah.

Di suatu siang, di sebuah auditorium FIB UI, ketika aku sedang berada di acara yang menghadirkan mbak Asma Nadia sebagai pembicara, di tengah-tengah asyik memperhatikan isi acara tentang dunia kepenulisan dan perfilman, ada sms datang di layar HPku:

”Lhin, bahan-bahan qta di lemari lab ga ada.. cuma tertinggal benzil klorida. Semuanya udah pd dibuangin ke bak sampah..”



Segera kubalas: ”ya ampuunn.. itu kan ada ionic liquids yang harganya mahal banget.. aduuuhh,, gmana ini?? Kamu tlg cari2 dulu di bak sampahnya ya..”

”Udah aku cari-cari n obrak abrik tong sampah akhir,, tapi gak ketemu Lhin..aku udh mau pingsan niih rasanya..”

Aku langsung teringat bahan berhargaku, bahan penelitian yang begitu butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Ionic liquids [BMIM] PF6 yang bernilai 3.5 juta rupiah hanya untuk 5 gram, yang harus didapatkan dari Singapura, yang harus menunggu waktu yang lama dalam pemesanannya. Ya Allah! Padahal penelitianku sudah usai dan tinggal menunggu sidang, kenapa masih ada masalah dengan bahan berhargaku itu??

Hatiku dag dig dug dan segera aku tinggalkan auditorium FIB UI untuk menuju gedung Departemen Kimia UI. Ya! Segera kutinggalkan acara yang sangat menarik itu demi bahan penelitianku yang berharga. Bukan hanya masalah harga yang selangit dari bahan penelitian itu yang membuat hatiku dag dig dug. Ini masalah amanah yang aku emban, amanah untuk menjaga bahan penelitianku yang sangat berharga, yang diberikan oleh dosen pembimbingku. Tak terbayang akan kecewa dan marah besarnya sang dosen pembimbing yang telah mendanai penelitianku jika memang ionic liquids itu benar-benar sudah terbuang ke dalam bak sampah dan hilang begitu saja, padahal aku masih harus menyelesaikan riset ini setelah lulus nanti. Tak terbayang, hubungan yang selama ini sudah terjaga keharmonisannya dengan dosen pembimbingku harus hancur berantakan ketika mengetahui ionic liquids itu sudah dibuang ke bak sampah akhir di gedung Kimia dan tidak bisa ditemukan atau bahkan sudah pecah dan isinya tercampur dengan sampah-sampah. Tak terbayang jika aku harus mengganti ionic liquids itu yang berharga 3.5 juta-an yang mungkin hanya bisa ditutupi dengan honor mengajarku beberapa bulan lamanya.

Sepanjang perjalanan menuju Departemen Kimia UI, pikiranku dipenuhi berbagai hal yang berkecamuk. Mulai dari membayangkan jika benar-benar tidak ditemukan ionic liquids itu, bagaimana reaksi sang dosen pembimbing ketika mengetahuinya, bagaimana aku harus mengganti dan memesan ionic liquids itu kembali, sampai menyalahkan diriku sendiri yang seharusnya mengembalikan segera ionic liquids itu ke dosen pembimbingku bahkan sempat terlintas pikiran yang menyalahkan temanku yang menghilangkan kunci lemari labku.

Astaghfirullahaladzim. Diri ini mencoba beristighfar berkali-kali, membentengi semua pikiran yang berkecamuk, mencoba berusaha untuk tetap tenang. Segera kumasukkan pikiran-pikiran positif: Lhin, semua yang terjadi pada diri kita, itu pasti dikehendaki Allah. Kejadian seperti inipun Allah yang kehendaki, pasti ada sesuatu yang harus kamu ambil hikmahnya dari kejadian ini. Kalau toh pun ionic liquids itu masih jodohmu insya Allah dia akan ketemu, kalaupun dia memang benar-benar hilang atau pecah, ya tentunya memang itulah yang dikehendaki Allah. Masalah uang untuk menggantinya, yakinlah Allah yang akan bukakan jalan. Allah yang menghendaki semua ini, Allah juga yang pasti akan menunjukkan jalan keluarnya. Masalah dengan dosen pembimbingmu, beritahu beliau dan selesaikan urusan ini setelah sidang agar moodnya baik-baik saja ketika sidang nanti dan katakan kamu yang akan bertanggung jawab penuh untuk menggantinya dengan memesan kembali ionic liquids itu. Tenang, tenang, yakinlah, yakinlah, yakinlah padaNYA! Semua akan baik-baik saja..

Benar saja, setelah menumbuhkan pikiran-pikiran positif, diri ini pun kembali tenang. Entah kenapa ada jeritan dalam hati ini, ada keyakinan dalam hati: insya Allah ionic liquids itu masih ada dalam bak sampah akhir itu dan masih baik-baik saja.. Ya Allah, temukanlah, kumohon..

Aku pun sampai di gedung Departemen Kimia UI dan langsung menemui bapak yang bertugas membersihkan lab dan tentunya pula yang membuang ionic liquidsku ke dalam bak sampah. Pak Kiri biasa kami memanggilnya. Aku segera meminta tolong padanya untuk ditunjukkan bak sampah dimana beliau membuang semua bahan-bahan kimia dari lab kimia; akan kumasuki bak sampah itu, akan kukais-kais supaya ionic liquidsku ketemu dan mungkin memang itulah ikhtiar terbaik yang harus dilakukan. Beliau pun menunjukkan dan membantu mengorek-ngorek bak sampah tanpa harus kami memasuki bak sampah itu, cukup mengaisnya menggunakan batang kayu yang cukup panjang.

Dikais-kais beberapa lama tak juga ketemu, bahkan bau sampah pun sudah tak tercium lagi di hidungku, mataku terus memperhatikan setiap sampah botol-botol bahan kimia bercampur belatung yang menggeliat ke sana kemari di atas dedaunan. Dalam pencarian itu, hatiku terus berdoa: “Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami ya Rabb.. kumohon. Jangan kau butakan mata kami untuk tidak dapat melihatnya. Ya Allah, kumohon temukanlah mata kami dengan botol keci coklat bertutup merah itu.. ” , jeritku dalam hati berulang-ulang sambil membayangkan botol kecil berwarna coklat dengan tutup merah yang masih utuh ketika aku menemukannya nanti.



Tak berapa lama kemudian, Pak Kiri berteriak: “Yang ini bukan??”

”Iya Pak! Bener Pak! Yang itu! Yang itu! Alhamdulillah..”, sahutku.

Namun kami agak kesulitan untuk mengambilnya karena bak sampah cukup tinggi juga, kira-kira seleherku. Alhamdulillah, saat itu, di sana ada ibu-ibu pemulung. Sungguh, memang Allah lah yang mempertemukan kami di lokasi bak sampah itu. Akhirnya kami meminta tolong padanya untuk mengambilkan botol kecil yang kami cari ke dalam bak sampah itu. Sang ibu pemulung yang memang sudah terbiasa di tempat seperti itu, segera memasuki bak sampah dan mengambil botol ionic liquidsku dan memberikannya kepada Pak Kiri, dan Pak Kiri-lah yang memberikannya kepadaku.

Ketika akhirnya botol kecil itu berada dalam genggamanku..

”Alhamdulillah.. makasih ya Buuuu.. makasih ya Pak..”

Seketika itu pula ketika ucapan itu keluar dari bibirku, airmataku tumpah dan menderas. Ingin rasanya sujud syukur saat itu juga, tapi lokasinya tak memungkinkan. Temanku pun datang, kami berpelukan sambil menangis; sebuah tangisan haru. Tangisan yang menunjukkan betapa tidak berdayanya kami kecuali tanpa pertolongan dari-NYA. Laa hawla walaa quwwata illabillah..

Sambil berpelukan, di lokasi bak sampah itu aku hanya bisa membayangkan aku benar-benar sedang bersujud syukur. Dan temanku pun akhirnya mengajakku ke gedung kimia untuk sujud syukur di sana. Aku bergegas menuju mushalla kimia, kutundukkan diri ini, sujud ke hadapanNYA, dan menangis sejadi-jadinya; ”Ya Allah, Engkau sungguh baik padaku, tapi apa yang selama ini sudah kulakukan dalam ibadah-ibadahku padaMU?? Sering aku lalai dalam mengingatmu duhai Rabb..”

Sungguh, kontemplasi akhir tahun yang sungguh nikmat bagiku dengan hal seperti ini. Ya! Sepertinya Allah memang ingin menunjukkan hal ini, menunjukkan Kuasa-NYA, dan Allah memberikan cara terbaikNYA untuk menegurku.

Semoga sepenggal kisahku ini bisa diambil hikmahnya bahwa kita bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. Pada dasarnya kita hanyalah manusia biasa yang tidak berkuasa sedikitpun atas kejadian yang menimpa diri kita. Hanya Allah yang berkuasa atas segalanya maka Yakinlah! Yakinlah padaNYA!. Ketika keyakinan itu tumbuh dalam hatimu, insya Allah hidup kita pun akan tenang. Kita takkan pernah takut seberat apapun ujian kesulitan hidup karena kita YAKIN bahwa Allah yang memberikan ujian kesulitan itu.. Allah pula yang akan menunjukkan jalan keluarnya. Kita tidak akan pernah sombong sebesar apapun ujian kenikmatan karena kita YAKIN bahwa kenikmatan yang kita dapatkan itu semata-mata hanya dari Allah.

Jangan Lari dari Ujian Hidup

dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”

Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”.

Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.

Perlu Kacamata Positif

Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.

Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”

Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.

Yang Manis Terasa Lebih Manis

Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.

Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.

Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)

Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.

Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.

Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan

Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi Kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.

Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya. Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt.

Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir. Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)

Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi, jangan lari dari ujian hidup!

Meraih Ridha Allah

dakwatuna.com - “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih ridha Allah swt. Dan adalah Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya”. (Al-Baqarah: 207)

Berdasarkan sebab nuzul yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ayat ini memberi gambaran konkrit tentang seseorang yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata untuk meraih ridha Allah dalam seluruh totalitas kehidupannya. Karena ia yakin, ridha Allah merupakan target puncak dari sebuah proses panjang keimanan yang merupakan implementasi nyata dari kesempurnaan takwa ‘كمال التقوى ‘, sebuah terminologi agung yan dikemukakan oleh Mufassir Abu Su’ud ketika memahami perilaku sahabat Rasulullah yang menjadi sebab turunnya ayat ini.

Adalah seorang sahabat Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi yang rela mengorbankan seluruh yang dimilikinya karena tekanan kaum Quraisy agar ia diperkenankan untuk berhijrah ke Madinah. Shuhaib dihalangi oleh para pemuka Quraisy untuk berhjrah melainkan ia menyerahkan seluruh hartanya kepada mereka tanpa tersisa sedikit pun. Dengan tanpa ragu-ragu, ia meninggalkan hartanya di Mekah semata-mata mengharapkan ridha Allah dari perbuatan hijrahnya yang mulia tersebut. Setelah sampai di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah, beliau memujinya dengan ungkapannya yang masyhur : رَبح صهيبُ، ربح صهيب (sungguh telah beruntung Shuhaib). dalam riwayat lain: ربح البيع، ربح البيع (sungguh telah beruntung perniagaannya).

Dalam konteks ayat ini, Ar-Razi menukil riwayat bahwa Umar bin Khattab pernah mengutus pasukan dan berhasil mengepung benteng pertahanan mereka. Karena tidak mampu menembus benteng tersebut, tiba-tiba seseorang berinisiatif untuk menerjunkan dirinya di tengah-tengah musuh untuk membuka pertahanan mereka sampai akhirnya orang tersebut menemui ajalnya. Setelah pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Umar bin Khattab atas keberanian sahabat tersebut, beberapa pasukan mengomentari apa yang dilakukan oleh orang tersebut yang dianggap membinasakan diri sendiri. Umar bin Khattab menampik pandangan mereka dan mengatakan: “Kalian telah berdusta dengan ucapan kalian itu. Semoga Allah merahmatinya”. Kemudian Umar membaca ayat ini untuk membenarkan perbuatan yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut.

Ar-Razi menutup pembahasan riwayat ini dengan mengemukakan bahwa barometer untuk menentukan seseorang tersebut termasuk dalam ayat ini atau sebaliknya membinasakan diri sendiri dengan perbuatan berani tersebut adalah kesesuaiannya dengan syariat. Jika ia melakukannya sesuai dengan tuntutan syariat maka itu dibenarkan dan masuk dalam kategori ayat ini. Namun jika sebaliknya, maka barulah dikatakan orang tersebut telah membinasakan diri sendiri dengan perbuatan nekad tersebut.

Berdasarkan korelasi pembahasannya, ayat ini merupakan pembanding dari tiga ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 204-206) yang berbicara tentang sikap dan perilaku orang-orang munafik yang rela mengorbankan segalanya semata-mata untuk meraih keuntungan duniawi. Maka Allah menghendaki sikap mengagumkan yang harus ditunjukkan oleh orang yang benar-benar beriman yang membedakannya dengan orang munafik, yaitu kesiapannya untuk memenuhi perintah Allah meskipun harus dengan mengorbankan segalanya demi meraih gelar tertinggi di mata Allah. Karena dengan meraih ridha Allah, segala kebaikan, kemuliaan dan keberkahan hidup akan senantiasa menyertainya dan Allah akan senantiasa hadir dengan sifat Penyantun yang ditegaskan oleh kalimat terakhir ayat ini: “Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya (yang rela mengorbankan segalanya untuk Allah)”.

Inilah pelajaran berharga yang ditunjukkan oleh ayat ini menurut Sayyid Quthb dalam tafsir Dzilalnya. Pelajaran tentang dua tipe manusia sepanjang zaman; seorang munafik yang menjadikan seluruh hidupnya demi kepentingan dunia dan seorang mukmin yang benar yang menggadaikan totalitas hidupnya untuk Allah, tanpa tersisa sedikitpun untuk selain-Nya. Maka secara spesifik di ayat selanjutnya Allah mengarahkan orang-orang yang beriman agar menjadikan totalitas hidupnya dalam kerangka berIslam secara utuh tanpa ada keraguan sedikit pun. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaafah dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian”. (Al-Baqarah: 208)

Berislam secara kaaffah seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat ini berarti meninggalkan segala bentuk langkah syaitan secara totalitas juga. Terbawa dan hanyut dalam salah satu dari jerat syaitan akan mengurangi totalitas keislaman kita. Karenanya, langkah-langkah syaitan dimaknai oleh para ulama dalam arti setiap perbuatan maksiat kepada Allah swt.

Di sini, berislam secara kaaffah sebagai wujud dari motifasi untuk meraih ridha Allah akan senantiasa berdepan dengan beragam langkah syaitan yang secara sistemik dan berkesinambungan berusaha mereduksi keyakinan untuk berislam secara totalitas dalam beragam bentuk dan tampilannya. Inilah yang harus diantisipasi dan diwaspadai oleh segenap orang yang beriman tanpa harus lengah sedikit pun.

Alangkah Susahnya Untuk Berlaku Ikhlas

Ikhlas adalah salah satu sifat mahmudah yang paling tinggi selepas iman. Ikhlas merupakan rahasia Tuhan, para malaikat juga tidak tahu. Diri kita sendiri pun tidak dapat merasakannya. Ikhlas adalah penentu amalan seseorang itu diterima atau ditolak oleh Allah. Para Sahabat ketika mendengar tentang ikhlas dari Rasulullah SAW menangis. Karena mereka merasa tidak selamat. Mereka merasa tidak mungkin mereka memiliki sifat ikhlas yang begitu tinggi kedudukan dan nilainya itu.

Karena sangat susah untuk mendapatkan sifat ikhlas itu, Islam tidak membenarkan seseorang mengaku dia ikhlas. Siapa yang mengaku dia ikhlas kalaupun sebelumnya dia betul ikhlas, otomatis keikhlasannya menjadi terbatal. Kalau begitu yang selama ini berlaku di dalam kehidupan kita sangatlah salah, seolah-olah telah menjadi budaya apabila seseorang itu memberi, menolong, membantu dengan berkata:

"Ambillah! Saya ikhlas!"

"Saya telah tolong dia dengan ikhlas. Kemudian dia memusuhi saya."



"Saya hendak tolong kamu dengan ikhlas! Tapi saya sedih, awak

menolaknya."

"Saya ikhlas hendak bagi sebanyak ini, karena itu saya bagi!"



Di dalam menulis surat selalu diakhiri dengan perkataan, "Saya yang

ikhlas."

Orang yang mengaku ikhlas, artinya dia telah mengaku menjadi orang yang paling baik. Di dalam ajaran Islam, mengaku baik adalah satu kesalahan. Siapa yang mengaku ikhlas, dari awal sudah tertolak atau ditiadakan keikhlasannya. Tiada yang mengetahui seseorang itu ikhlas sekalipun yang punya diri, walaupun malaikat, selain Allah saja yang Maha Mengetahui.

Oleh karena itu tidak seorangpun berhak mengaku dirinya ikhlas. Hanya berusahalah untuk menjadi orang yang ikhlas. Moga-moga kita ikhlas. Setelah kita berbuat demikian moga-moga setiap amal yang kita buat itu diterima oleh Allah SWT.

Apa arti ikhlas?

Arti ikhlas itu adalah murni, bersih. Suatu benda kalau hanya terdiri dari satu jenis saja, tidak dicampur dengan jenis lain maka benda tersebut dianggap bersih, murni, tidak dinodai oleh benda-benda lain. Sebagai contoh. Misalkan air, kalau air itu tercampur sabun, nila atau tepung, artinya air itu tidak murni lagi. Tidak mutlak air lagi. Tidak bersih, tidak 'pure' karena tercampur benda lain yang bukan jenisnya. Artinya air telah ternoda atau dinodai oleh benda yang lain. Atau ia telah diwarnai oleh benda lain.

Begitu juga dalam kita beramal, berusaha, berjuang seperti bersembahyang, puasa, zakat, naik haji, membaca al-Quran, mengajar, berdakwah, memberi, menolong, motivasi, forum, ceramah dan belajar karena Allah Taala, karena suruhan-Nya, karena perintah-Nya, karena keredhaan-Nya, karena arahan-Nya, karena mentaati-Nya dan patuh kepada-Nya.

Jadi hal -hal yang kita buat itu, seperti contoh di atas karena-Nya adalah satu, tujuannya satu, didorong oleh satu yaitu Allah SWT. Demi untuk mengabdikan diri kepada-Nya. Tidak bercampur dengan karena-karena/alasan-alasan yang lain selain karena Allah Taala. Itulah yang dikatakan orang yang ikhlas, yaitu dia membuat kerja-kerja tadi murni karena-Nya. Tujuannya bersih. Dorongan dari satu yaitu Allah SWT. Apa nak jadi tidak timbul atau apa yang tidak jadi tidak timbul -blm ditranslate, bingung.-.

Apabila dalam membuat kerja-kerja seperti yang dicontohkan di atas 'karena'nya/ alsannya, niatnya, dorongannya telah tercampur dengan karena-karena lain atau terselip niat-niat lain, dalam dia berbuat itu, dorongannya bukan satu lagi tapi sudah menjadi dua atau tiga seperti membuat kerja-kerja di atas dicampur dengan karena riyak, megah, nama, glamour, pangkat, duit, karena orang minta, karena takut orang tak suka, mental exercise, karena bosan di rumah, karena mau lari dari masalah, karena ingin dukungan atau suara, karena ingin menguji kemampuan, karena mau berlawan, karena hadiah, karena piala, karena kawan, maka orang itu sudah tidak khalis/bersih lagi di dalam kerja-kerjanya. Ikhlas sudah tiada, ikhlas sudah tidak murni lagi di dalam perbuatannya, ikhlas telah ternoda. Justru apa yang dibuat itu 'karena Allah'nya telah bercampur dengan karena-karena yang lain seperti karena contoh di atas yang telah disebut tadi.

Oleh itu 'karena Allah'nya sudah tidak bersih atau tidak murni lagi, niatnya telah bersekutu dengan yang lain. Niatnya telah menjadisyirik, yaitu syirik khafi. Di Akhirat nanti Allah meminta orang itu, "Pergilah minta kepada orang yang awak karenakan itu". Allah Taala tidak akan membalas kebaikan apa-apa kepada orang itu karena tujuan dia beramal itu, tidak kepada Allah lagi atau tidak sepenuhnya karena Allah Taala, ada karena yang lain selain karena Allah Taala.

Sangat susah agar ikhlas di dalam perbuatan kita. Terutama kerja-kerja dan amalan yang berhubungan dengan kepentingan umum atau dengan orang ramai atau amalan yang berkaitan kepada pandangan umum seperti ceramah, dakwah, mengajar, belajar, gotong-royong, membaca Al Quran di depan banyak orang, forum, wawancara, memberi hadiah, memberi bantuan di hadapan umum atau di hadapan orang ramai, lebih-lebih lagi bagi orang yang jarang memikirkan hati, kurang muhasabah hatinya, hati dibiarkan atau terbiar jarang diperhatikan, seringkali lebih banyak terjebak kepada tidak ikhlas. Lebih sering nawaitunya tercampur dengan hal-hal huzuzunafsi, kepentingan atau tujuan diri baik disadari atau tidak disadari, karena kurang menyuluh hati.

Terkadang amalan itu dari awal nawaitunya telah rusak. Kalau tidak di awal, rusaknya di pertengahan jalan, kadang-kadang di awal-awal dan di pertengahan jalan hatinya masih karena Allah, tidak bercampur yang lain selain Allah Taala, tapi dia terjebak di ujung atau di akhir perbuatannya. Ibarat membuat rumah atau bangunan di atas lumpur maka awal-awal lagi rumah atau bangunan itu runtuh.

Di sini saya beri contoh bagaimana dia bisa terjadi. Misalkan kita mau berdakwah di satu tempat pada suatu hari. Baik progam itu kita yang buat atau ada yang mengundang kita ke progam tersebut. Hati kecil kita pun berkata:



"Ha! Ini dia waktunya aku akan populer."

"Aku akan terkenal!"

"Ada peluang dapat duit!"

"Aku akan hentam puak-puak ini yang menjadi musuh aku selama ini."-blm ditranslate-

"Biar mereka tahu siapa aku!"

"Biar tahu rasa mereka nanti!"

Maka usaha dakwahnya rusak sama sekali! Dari awal sudah tidak ada keikhlasannya. Bukan karena Allah Taala tapi karena diri kita sendiri atau karena tujuan menghentam, tapi kita menggunakan hak-hak Allah sebagai alat. Ini ibarat melukis di atas air atau membangunkan rumah di atas lumpur.



Apabila rusak di tengah-tengah atau di dalam perjalanannya, mula-mula memang dibuat karena Allah. Hati berkata:

"Aku wajib menyampaikan seruan Allah itu."

"Apalagi lagi peluang sudah ada atau sudah terbuka."

"Aku mesti mengisi program itu."

"Aku tidak ada kekurangan (sedang sehat)."

"Kalau aku tidak mengisi program itu nanti Allah marah. Insya-Allah aku

akan pergi berdakwah di tempat itu."

Waktu sedang menyampaikan dengan semngatnya dengan bahasa yang indah, dalil-dalil dan hujah-hujah yang fasih, banyak orang ramai mengangguk-angguk. Begitu ceria muka mereka mendengarnya dan menerima apa yang kita sampaikan menunjukkan ada respon dari orang ramai. Hati kita pun berbunga. Syaitan pun menghembus-hembuskan ke dalam hati agar kita lupa dengan Allah. Kita jadi merasa luar biasa. Hati kita pun membisikkan kepada kita:



"Hebat aku ini!"

"Boleh juga aku ini."

"Susah buat orang lain untuk menandingi aku."



Di pertengahan perbuatannya dia rusak. Rusak di dalam perjalanan. Keikhlasannya tadi telah diungkaikannya/diangkatnya semula. Dia telah memcampurkan niat di antara Allah

dengan dirinya sendiri, syirik khafi. Ibadahnya atau kebaikannya berdakwah itu telah dibatalkan. Ibarat membuat rumah atau bangunan, pembangunnanya belum siap tapi telah diruntuhkan semula.

Kemudian sebagai contoh, bagaimana rusak di hujung atau di akhir:

Di awalnya sebelum berdakwah itu niatnya sudah bagus. Tujuannya betul karena Allah. Dia ingin menunaikan tanggungjawab untuk menyampaikan risalah Tuhan kepada umat. Apabila sampai pada waktunya, berhadapan dengan orang ramai, ia pun menyampaikan dakwahnya. Di waktu itu hatinya masih baik. Belum tergugat lagi. Karena Allah Taala masih belum terungkai lagi, tapi apabila menjelang pulang dari majelis dakwah itu, ada kawan yang sama-sama berada di dalam keretanya yang berkata:



"Ustadz tadi ceramahnya bagus sekali."

"Saya lihat banyak orang diacara itu mengangguk saja tanda setuju."

"Ustaz ini kalau selalu membuat dakwah ini, ustaz akan lebih lagi lincah dan matang."

Hatinya langsung berbunga. Ujub pun datang. Syaitan membisikkan di dalam hatinya bahwa dia orang yang mampu dan memiliki kebolehan. Dia telah lupa kemampuan itu anugrah dari Allah Taala yang Maha Pengurnia. Seharusnya dia malu kepada Tuhan karena Allah Taala telah memberi dia kebolehan di dalam berceramah atau pidato. Maka terbatal pula ibadahnya. Pahala dakwahnya malam itu telah terkorban. Ibarat membangunkan rumah atau bangunan, Begitu jadi rumahnya, dia pun runtuh.

Apa yang kita bawa ini adalah sebagai satu contoh. Kita dapat apply kepada usaha-usaha dan kerja-kerja yang lain. Apakah usaha dan kerja itu kita buat karena Allah atau karena kita seratus persen atau bercampur karena Allah dan karena kita.

Berdasarkan apa yang ditulis ini, masya-Allah, sungguh sangat terasa oleh kita betapa susahnya untuk menjadi orang yang ikhlas, sedangkan ikhlas itu adalah roh ibadah. Penentu apakah ibadah-ibadah itu ditolak atau diterima.

"Wahai Tuhan, rasanya kami belum berbuat apa-apa sebelum ini, kalaupun ada berbuat, sudah tentu susah sekali untuk menghindarkan dari huzuzunnafsi ini. Yaitu ada tujuan karena diri. Kalau bukan karena bantuan dan pimpinan-Mu Tuhan, rasanya apapun amalan yang kami buat mungkin akan ditolak semuanya."

Saudara saudari, di sinilah rahasianya mengapa terkadang usaha dan perjuangan kita itu tidak menghasilkan apa-apa, walaupun usaha sudah dilakukan, respon orang ramai ada, tapi kesannya tiada. Orang-orang tidak juga berubah dari dakwah yang kita beri itu. Apa yang diucapkan oleh mulut kita tidak sama di hati. Apa yang dikatakan oleh mulut kita sudah cantik, tidak ada cacat celanya, tapi ternyata cacat di hati. Jadi apa yang diucapkan oleh mulut itu hanya jatuh di mulut orang ramai juga. Orang ramai memuji-muji kita, membahas dan memperpanjang ceramah kita. Namun hati mereka tidak berubah apa-apa karena di sini terhijab bantuan daripada Allah Taala yang di sebabkan oleh niat atau hati kita yang telah rusak oleh mazmumah riyak dan lain-lain lagi karena di waktu itu sifat-sifat taqwa kita sudah ternafi/tidak ada lagi. Allah Taala tidak akan menolong orang yang tidak bertaqwa.

Oleh itu saudara saudari, terutama saya, mengingatkan diri saya, mari kita membuat kerja-kerja kebaikan itu dengan hati yang runduk, yang tawadhuk, yang penuh malu kepada Tuhan, dengan rasa takut dan cemas. Takut kalau amalan kita itu ditolak oleh Allah Taala. Firman Allah yang bermaksud:



"Ikhlas itu satu rahasia dalam rahasia-Ku, Aku titiskan ia dalam hati

hamba-hamba-Ku yang Aku kasihkannya."



"Sesungguhnya Allah Taala tidak memandang gambaran lahir kamu tapi dia

melihat apa yang ada di dalam hati kamu."

(Riwayat Bukhari dan Muslim)



Marilah kita berhati-hati. semoga kita selamat.

"Ya Allah berilah kami selalu hidayah dan taufik-Mu agar perjalanan

lahir dan batin kami berjalan selaras menuju keredhaan-Mu, ya Allah!"

Jangan Menjadi Mukmin Instan

http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/jangan-menjadi-mukmin-instan.htm



Menanam jagung dengan menanam jati hasilnya pasti akan lain. Waktu yang dibutuhkannya juga lain. Jagung hanya butuh waktu tiga bulan. Sudah dapat dipanen. Sedangkan pohon jati memerlukan waktu puluhan tahun. Tetapi pohon jati semakin tua, kayunya semakin baik.

Manusia tabiatnya ingin cepat dan serba instan. Tidak ingin susah. Tidak ingin kesulitan. Segalanya ingin dicapai dengan mudah. Tidak ingin belama-lama dengan waktu. Usahanya ingin cepat dinikmatinya. Inilah kehidupan hari ini. Karena itu banyak orang yang tidak dapat sabar. Tidak sabar dengan waktu dan proses. Sehingga banyak yang mengambil jalan pintas.

Bagaimana menegakkan agama Allah ingin cepat mendapatkan hasilnya? Ingin terwujud sebuah tatanan yang sesuai yang diinginkannya. Padahal perjuangan menegakkan agama Allah itu bukan yang mudah. Tidak mungkin dapat terwujud dengan waktu yang serba singkat. Butuh proses. Ingin cepat terwujud keinginannya. Sementara itu berbagai tantangan dan hambatan bertumpuk-tumpuk.

Lamanya pencapaian dalam setiap usaha itu, sebaliknya akan menentukan kualitas manusia itu. Apakah dia jenis manusia yang cukup memiliki kesabaran? Sebatas dengan kemampuan menghadapi rintangan dan tantangan yang ada, dan kemudian dia tetap sabar dalam usahanya, maka manusia ini termasuk jenis manusia yang sabar. Manusia yang penuh dengan tawakal.

Seorang sahabat Salman Al-Farisi harus berjalan kaki dari negeri Syria ke Madinah. Salman yang pindah-pindah agama, yang akhirnya menemukan Islam, dan begitu rindunya dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, harus ridha berjalan kaki menempuh perjalanan yang sangat panjang melintasi gurun pasir, agar sampai ke Madinah.

Tidak mungkin membangun sebuah kehidupan yang menggunakan kualitas yang seperti diinginkan oleh Allah Rabbul Alamin itu, hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Membutuhkan waktu yang amat panjang. Bila manusia sudah terdorong ingin cepat mencapai hasilnya, dan tidak sabar, maka bangunan yang diinginkannya tidak pernah akan terwujud selama-lamanya. Justru orang-orang yang menginginkan bangunan Islam dengan instan itu, ujung-ujungnya akan terperangkap pada jebakan musuh, dan kemudian akan menghancurkan gerakannya.

Kisah Salman hanyalah sepenggal kisah. Manusia yang penuh dengan keikhlasan dalam usahanya ingin mendapatkan ridha dari Rabbnya, dan keinginannya bertemu dengan manusia yang mendapatkan amanah dari Rabbul alamin, yaitu Rasul Shallahu alaihi wa sallam. Mengapa Salman begitu kuat keinginan bertemu dengan Rasul Shallahu alaihi wa sallam? Salman berani menanggung resiko denan berjalan kaki mengarungi samudera padang pasir yang begitu luas, dan jauh dari kota Madinah? Ini hanyalah episode tokoh yang begitu rindu ingin menegakkan bangunan Islam, dan Rasul Shallahu alaihi wa sallam, yang menjadi pujaannya.

Islam hanya dapat dibangun kekuatan orang-orang yang sabar, tidak pernah tergoda dengan hasil, yang berupa lukisan dunia. Salman yang berani menempuh perjalanan begitu panjang, bukan semata-mata ingin mendapatkan kehidupan dunia.

Kerinduannya kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tak lain kerinduannya dengan orang yang sudah pasti dijanjikan tentnag kemuliaan pada kehidupan akhirat. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, manusia yang paling mulia, yang dengan dakwahnya yang tak mengenal menyerah dengan siapapun, yang ingin menghalangi dakwahnya, karena Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tidak menginginkan kenikmatan dunia. Tetapi, Rasulullah Shallahu alaihi, seorang utusan Allah Rabbul alamin, yang senantiasa merindukan kemuliaan disisi-Nya.

Orang-orang yang sabar dan tidak bersikap instan dalam mencapai tujuan, tidak takut dengan ancaman-ancaman, dia akan tetap istiqomah dengan usahanya. Betapa terasa sangat berat.

Salman datang kepada Islam dengan sendirian. Dari bumi yang sangat jauh. Rela dengan penuh keikhlasan memenuhi panggilan Islam. Tidak peduli dengan waktu. Tidak peduli dengan masa dalam hidupnya. Ia menemukan Islam dan membelanya dang memperjuangkannya. Sampai akhirnya Salman meninggal sendirian di tengah padang pasir. Tanpa siapa-siapa. Ia tetap istiqomah dengan Islamnya. Tak butuh pertolongan dan dukungan manusia.



Begitulah generasi salaf dahulu menjalani kehidupan mereka, ketika mereka sudah memeluk Islam, tak pernah lagi meninggalkannya. Dengan penuh kesabaran memperjuangkan dan menegakkannya. Semuanya dijalani dengan sabar. Tanpa berkeluh kesah, dan ingin menikmati segera hasilnya. Dijalani kehidupan dengn penuh tawakal.

Allah Ta’ala berfirman :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا ﴿٢٨﴾

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuihannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaannya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia, dan janganlah engkau mengkuti oran gyang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dari keadaannya sudah melewati batas”. (QS. Al-Kahfi [18] : 28)

Tetaplah bersama dengan orang-orang yang dengan penuh kehidupan yang bertujuan menegakkan agama Allah, dan bangunan Islam, dan jangan tergoda oleh bisikan dan rayuan dunia, yang dapat merusak jalan hidup ini, jalan hidup orang-orang mukmin, yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai wali dan pelindung. Wallahu’alam.

kiat-kiat menghadapi setiap cobaan dan ujian dari Allah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com



Mengarungi kehidupan pasti seseorang akan mengalami pasang surut. Kadang seseorang mendapatkan nikmat dan kadang pula mendapatkan musibah atau cobaan. Semuanya datang silih berganti. Kewajiban kita adalah bersabar ketika mendapati musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat Allah. Berikut adalah beberapa kiat yang bisa memudahkan seseorang dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan.

Pertama: Mengimani takdir ilahi

Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[1]

Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [2]

Kedua: Yakinlah, ada hikmah di balik cobaan

Hendaklah setiap mukmin mengimani bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti ada hikmah di balik itu semua, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak kita ketahui.[3] Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39)

Ketiga: Ingatlah bahwa musibah yang kita hadapi belum seberapa

Ingatlah bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mendapatkan cobaan sampai dicaci, dicemooh dan disiksa oleh orang-orang musyrik dengan berbagai cara. Kalau kita mengingat musibah yang menimpa beliau, maka tentu kita akan merasa ringan menghadapi musibah kita sendiri karena musibah kita dibanding beliau tidaklah seberapa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي

“Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.”[4]

Dalam lafazh yang lain disebutkan,

مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ

“Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia tentu akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.”[5]

Keempat: Ketahuilah bahwa semakin kuat iman, memang akan semakin diuji

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”[6]

Kelima: Yakinlah, di balik kesulitan ada kemudahan

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6). Qotadah mengatakan, “Diceritakan pada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi kabar gembira pada para sahabatnya dengan ayat di atas, lalu beliau mengatakan,

لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ

“Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”[7]

Keenam: Hadapilah cobaan dengan bersabar

'Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.

“Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.”[8]

Yang dimaksud dengan bersabar adalah menahan hati dan lisan dari berkeluh kesah serta menahan anggota badan dari perilaku emosional seperti menampar pipi dan merobek baju.[9]

Ketujuh: Bersabarlah di awal musibah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.”[10] Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.

Kedelapan: Yakinlah bahwa pahala sabar begitu besar

Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[11]

Kesembilan: Ucapkanlah “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un ...”

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un. Allahumma'jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do'a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”[12]

Do'a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Kesepuluh: Introspeksi diri

Musibah dan cobaan boleh jadi disebabkan dosa-dosa yang pernah kita perbuat baik itu kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syura: 30). Maksudnya adalah karena sebab dosa-dosa yang dulu pernah diperbuat.[13] Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Akan disegerakan siksaan bagi orang-orang beriman di dunia disebabkan dosa-dosa yang mereka perbuat, dan dengan itu mereka tidak disiksa (atau diperingan siksanya) di akhirat.”[14]

Semoga kiat-kiat ini semakin meneguhkan kita dalam menghadapi setiap cobaan dan ujian dari Allah

Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu

oleh Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja



Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim no 2878)

Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ “Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu” (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 2/859)

Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…

Seorang penyair berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي*** إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…

Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…

Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari

Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…

Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…

Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar

Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…

Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…

Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…

Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :

Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)

عَنْ حُسَيْن الْعَنْقَزِي قَالَ: لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ الْمَوْتُ بَكَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَف خَتْمَة

Dari Husain Al-’Anqozi, ia bertutur :

Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali” (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)

Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H)

لما حضرت أبا بكر بن عَيَّاش الوفاةُ بَكَتْ أُخْتُهُ فقال : لاَ تَبْكِ اُنْظُرِي إِلىَ تِلْكَ الزَّاوِيَةِ الَّتِي فِي الْبَيْتِ قَدْ خَتَمَ أَخُوْكَ فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلَف خَتْمَة

Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali” (Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)

Demikianlah para pembaca yang budiman…Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali… Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini… waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi….

Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair

Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :

سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات

‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)

Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama’ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : “Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko’…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…”, dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.

Kisah Di masa Sekarang:

Pertama : Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”

Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”

Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.

Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”

Kedua : Kisah seorang tukang adzan (Muadzdzin)

Dia adalah seorang yang selama 40 tahun telah mengumandangkan adzan, tanpa mengharap imbalan selain wajah Allah. Sebelum meninggal ia sakit parah, maka dia pun didudukkan di atas tepat tidur. Dia tak dapat berbicara lagi dan juga untuk pergi kemasjid. Ketika sakit semakin parah diapun menangis, orang-orang disekitarnya melihat adanya tanda-tanda kesempitan di wajahnya. Seakan-akan dia berucap ya Allah aku telah beradzan selama 40 tahun, engkau pun tahu aku tidak mengharap imbalan kecuali dari Engkau kemudian akan terhalangi dari adzan di akhir hidupku?. Kemudian berubahlah tanda-tanda diwajahnya menjadi kegembiraan dan kesenangan. Anak-anaknya bersumpah bahwasanya ketika tiba waktu adzan ayah mereka pun berdiri di atas tempat tidurnya dan menghadap kiblat kemudian mengumandangkan adzan di kamarnya, ketika sampai pada kalimat adzan yang terkahir “laa ilaaha illallah” dia pun jatuh di atas tempat tidurnya. Anak-anaknya pun segera menghampirinya, mereka pun mendapati ruhnya telah menuju Allah.

Para pembaca yang budiman…jika kematian telah tiba maka seluruh harta dan kekuasaan yang telah kita usahakan dan perjuangakan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan peras keringat akan sirna…

Kisah Khalifah Al-Ma’muun,

Ketika sakaratul maut mendatanginya diapun memanggil para tabib di sekelilingnya berharap agar bisa menyembuhkan penyakitanya. Tatkala ia merasa berat (parah sakitnya) maka ia berkata, “Keluarkanlah aku agar aku melihat para pasukan perangku dan aku melihat anak buahku serta aku menyaksikan kekuasaanku”, takala itu di malam hari. Maka Khalifah Al-Makmuun pun dikeluarkan lalu ia melihat kemah-kemah serta pasukan perangnya yang sangat banyak jumlahnya bertebaran di hadapannya, dan dinyalakan api. (Tatkala melihat itu semua) iapun berkata, يَا مَنْ لاَ يَزُوْلُ مُلْكُهُ اِرْحَمْ مَنْ قَدْ زَالَ مُلْكُهُ “Wahai Dzat yang tidak akan pernah musnah kerajaannya… Sayangilah orang yang telah hilang kerajaannya…”. Lalu iapun pingsan.

Kemudian datanglah seseorang disampingnya hendak mentalqinnya kalimat syahadah, lalu Khalafah Al-Makmuun membuka kedua matanya tatkala itu dalam keadaan wajahnya yang merah dan berat, ia berusaha untuk berbicara akan tetapi ia tidak mampu. Lalu iapun memandang ke arah langit dan kedua matanya dipenuhi dengan tangisan maka lisannya pun berucap tatkala itu, يَا مَنْ لاَ يَمُوْتُ اِرْحَمْ مَنْ يَمُوْتُ “Wahai Dzat Yang tidak akan mati sayangilah hambaMu yang mati”, lalu iapun meninggal dunia. (Lihat Muruuj Adz-Dzahab wa Ma’aadin Al-Jauhar karya Al-Mas’uudi 2/56 dan Taariik Al-Islaam karya Adz-Dzahabi 15/239)

Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan:

Tatkala ajal menjemput Khalifah Abdul Malik bin Marwaan maka iapun memerintahkan untuk dibukakan pintu istana, tiba-tiba ada seorang penjaga istana yang sedang mengeringkan bajunya di atas batu, maka iapun berkata, “Siapa ini?”, maka mereka menjawab, “Seorang penjaga istana”. Maka iapun berkata, “Seandainya aku adalah seorang penjaga istana…”. Ia juga berkata, “Seandainya aku adalah budak miliki seorang yang tinggal di pegunungan Tihaamah, lantas akupun menggembalakan kambing di pegunungan tersebut”.

Diantara perkataan terakhir yang diucapkannya adalah,

اللَّهُمَّ إِنْ تَغْفِرْ تَغْفِرْ جَمًّا، لَيْتَنِي كُنْتُ غَسَّالاً أَعِيْشُ بِمَا أَكْتَسِبُ يَوْماً بِيَوْمٍ

“Yaa Allah, jika engkau mengampuniku maka berilah pengampunanMu yang luas, seandainya aku hanyalah seorang tukang cuci, aku hidup dari hasil penghasilanku sehari untuk kehidupan sehari”

Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, “Keluarkanlah aku di beranda istana…”, kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ “Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu”. Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini ;

إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ

Jika engkau menyidangku wahai Robku maka persidanganMu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi

أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ

Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah”

(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)

Para pembaca yang budiman…. Janganlah terpedaya dengan gemerlapnya dunia ini…

Rasulullah bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur keledzatan”, yaitu kematian (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam irwaa al-goliil 3/145)

Imam Al-Qurthubi berkata: “Ketahuilah sesungguhnya mengingat kematian menyebabkan kegelisahan dalam kehidupan dunia yang akan sirna ini, dan menyebabkan kita untuk senantiasa mengarah ke kehidupan akhirat yang abadi.

Seseorang tidak akan terlepas dari dua kondisi, kondisi lapang dan sulit, kondisi di atas kenikmatan atau di atas ujian. Jika ia berada pada kondisi sempit dan di atas ujian maka dengan mengingat mati akan terasa ringanlah sebagian ujian dan kesempitan hidupnya, karena ujian tersebut tidak akan langgeng dan kematian lebih berat dari ujian tersebut. Atau jika ia berada dalam kondisi penuh kenikmatan maka mengingat mati akan menghalanginya agar tidak terpedaya dengan kenikmatan tersebut” (At-Tadzkiroh 1/123-124)

Imam Al-Qurthubi juga berkata:

و كان يزيد الرقاشي يقول لنفسه : و يحك يا يزيد من ذا يصلي عنك بعد الموت ؟ من ذا يصوم عنك بعد الموت؟ من ذا يترضى عنك ربَّك بعد الموت؟ ثم يقول : أيها الناس ألا تبكون وتنوحون على أنفسكم باقي حياتكم؟ من الموت طالبه والقبر بيته والثرى فراشه والدود أنيسه وهو مع هذا ينتظر الفزع الأكبر يكون حاله؟ ثم يبكي حتى يسقط مغشيا عليه

Yazzid Ar-Ruqoosyi berkata kepada dirinya : “Celaka engkau wahai Yaziid, siapakah yang akan sholat mewakilimu jika engkau telah meninggal?, siapakah yang akan mewakilimu berpuasa setelah kematianmu?, siapakah yang mendoakan engkau agar Robmu meridhoimu setelah matimu?”. Lalu ia berkata, “Wahai manusia, janganlah kalian menangisi diri kalian sepanjang hidup kalian, barangsiapa yang kematian mencarinya, kuburan merupakan rumahnya, tanah merupakan tempat tidurnya, dan ulat-ulat menemaninya, serta ia dalam kondisi demikian menantikan tibanya hari kiamat yang sangat dahysat maka bagaimanakah kondisinya?”. Lalu iapun menangis dan menangis hingga jatuh pingsan. (Lihat At-Tadzikorh 1/124)

Kisah penutup :

Dari Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal berkata:

لَمَّا حَضَرَتْ أَبِي الْوَفَاةُ جَلَسْتُ عِنده وَبِيَدِي الْخِرْقَةُ لأَشُدَّ بِهَا لِحْيَيْهِ فَجَعَلَ يَعْرَقُ ثُمَّ يُفِيْقُ ثُمَّ يفتح عينيه ويقول بيده هكذا : “لاَ بَعْدُ” ففعل هذا مرةً وثانيةً، فلما كان في الثالثة قلت له : يَا أَبَةِ أَيُّ شَيْءٍ هَذَا قَدْ لَهَجْتَ بِهِ فِي هَذَا الْوَقْتِ تَعْرَقُ حَتَّى نَقُوْلُ قَدْ قُبِضْتَ ثُمَّ تَعُوْدُ فَتَقُوْلَ : لاَ، لاَ بَعْدُ. فقال لي : يا بُنَيَّ مَا تَدْرِي؟ قلتُ :لاَ، قال : إبليس لعنه الله قائم حذائي عَاضٍّ على أَنَامِلِهِ يقول لي : يا أحمدُ فُتَّنِي فَأَقُوْلُ لَهَ : لاَ بَعْدُ حَتَّى أَمُوْتَ

Tatkala kematian mendatangi ayahku maka akupun duduk disampingnya, dan di tanganku ada sepotong kain untuk mengikat dagu beliau (yang dalam keadaan tidak sadarkan diri). Maka beliaupun mencucurkan keringat lalu beliau tersadar dan membuka kedua mata beliau dan beliau berkata, “Tidak, belum…!” seraya menggerakkan tangan beliau (memberi isyarat penolakan). Lalu beliau melakukan hal yang sama untuk sekali lagi, kedua kali lagi. Dan tatkala beliau mengulangi hal ini (mengucapkan : “Tidak, belum..!, seraya menebaskan tangan beliau) untuk ketiga kalinya maka akupun berkata, “Wahai ayahanda, ada apa gerangan?, engkau mengucapkan perkataan ini dalam kondisi seperti ini?”. Engkau mencucurkan keringat hingga kami menyangka bahwa engkau telah meninggal dunia, akan tetapi kembali engkau berkata, “Tidak, tidak…, belum…!”. Lalu ia berkata, “Wahai putraku, engkau tidak tahu?”, aku berkata, “Tidak”. Ia berkata, “Iblis –semoga Allah melaknatnya- telah berdiri dihadapanku seraya menggigit jari-jarinya, dan berkata, “Wahai Ahmad engkau telah lolos dariku”, maka aku berkata kepadanya, “Tidak, belum, aku belum lolos dan menang darimu hingga aku meninggal” (lihat Sifat As-Sofwah 2/357)

Kisah ini mengingatkan kepada kita bahwasanya pertempuran melawan Iblis dan para pengikutnya tidak pernah berhenti hingga maut menjemput kita. kita tidak boleh pernah lalai dan merasa telah mengalahkan Iblis, karena Iblis dan para pengikutnya akan senantiasa mengintai dan mencari celah-celah untuk menjeremuskan kita sehingga bisa menemaninya di neraka Jahannam yang sangat panas….!!!!, Maka wasapadalah selalu… melawan musuh yang melihatmu padahal engkau tidak melihatnya… musuh yang senantiasa mendatangimu dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri sementara engkau dalam keadaan lalai…. Musuh yang sudah sangat berpengalaman dalam menjerumuskan anak keturunan Adam dengan berbagai metode dan jerat…. Hanya kepada Allahlah kita mohon keselamatan dari musuh yang seperti ini modelnya… walaa haulaa wa laa quwwata illaa billaaah

Saudaraku yang mulia…!!

Allah Yang Maha Mulia telah memberlakukan sunnatullahNya bahwasanya: “Orang yang hidup di atas sesuatu pola/model kehidupan maka ia pun akan mati di atas model tersebut, dan kelak ia akan dibangkitkan di atas model tersebut”

Siapkanlah dirimu menyambut tamu yang akan mendatangimu secara tiba-tiba…yaitu kematian, jangan sampai tamu tersebut menemuimu dalam kondisi engkau sedang bermaksiat kepada Robmu.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan ilmunya.

MEWASPADAI LANGKAH SETAN

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Q.S. Fâthir [35]: 6).



Kita tentu telah sama-sama mengetahui makhluk Allâh yang terkenal karena pembangkangannya saat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. dan berkomitmen untuk senantiasa mengganggu serta menjerumuskan anak cucu Adam kepada kesesatan yang mana muaranya adalah berujung pada al-Nâr. Mereka itu adalah setan yang merupakan keturunan dari iblis.

Setan merupakan golongan yang senantiasa menggoda manusia menjauh dari jalan Allâh. Mereka itu yang selalu senang ketika manusia taklid (patuh) pada jalan mereka yang sesat. Mereka punya seribu cara menggaet manusia untuk dijerumuskan dalam dosa. Jika tidak mengajak bicara dusta, maka mereka akan mengajak berkata kotor. Jika tidak membuat malas, mereka coba melalaikan. Jika tak mengarahkan ber-su’uzhan (berburuk sangka) maka mereka coba menciptakan hasad (dengki) di dalam hati kita. Singkatnya, segala upaya dan cara akan digunakan demi merekrut massa sebanyak-banyaknya dari golongan kita (manusia) untuk menjadi teman mereka di neraka kelak.

Kata setan berasal dari kata syaithana artinya menjauh. Dinamai setan karena jauhnya dia dari kebenaran. (Shabuni, 1977, hal. 17). Setan merupakan keturunan (anak cucu) iblis, yaitu yang pertama kali membangkang ketika diperintah sujud kepada Nabi Adam a.s. Sementara itu Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Aqidah Islam menyatakan, iblis itulah nenek moyang seluruh setan, yang seluruhnya selalu durhaka kepada Allâh SWT dan bertekad untuk menggoda umat manusia (anak cucu Adam) mengikuti langkah mereka menentang perintah Allâh SWT.

Manusia yang mukallaf (diperintahkan untuk mengerjakan syari’at agama) adalah objek yang menarik bagi setan. Manusia yang sudah baligh dan mumayiz (sudah bisa membedakan baik dan buruk) adalah sasaran empuk mereka. Bisa menyebarkan kesesatan di antara manusia menjadi cita-cita akbar. Merebut hamba-hamba dari jalan-Nya untuk dijadikan budak (pengikut) mereka adalah dambaan bagi mereka.

Manusia yang menjadi pengikut setan ini disebut golongan setan (hizbu al-syaithan). Yaitu mereka yang sadar ataupun tidak sadar telah mengikuti kebobrokan perbuatan-perbuatan setan. Cirinya ialah pertama, mereka dikuasai setan, kedua, mereka lupa kepada Allâh SWT. Seperti yang telah Allâh jelaskan dalam surah al-Mujâdalah [58]: 19, Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allâh, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.

Dalam menjalankan ekspansinya untuk menyesatkan manusia (tadhlil), setidaknya ada delapan cara yang digencarkan oleh setan untuk dapat menguasai manusia. Cara-cara itu ialah [1] Waswasah (bisikan), [2] Nis-yan (membuat lupa), [3] Tamanni (angan-angan), [4] Tazyin (memandang indah maksiat), [5] Wa’dun (janji palsu), [6] Kaidun (tipu daya), [7] shaddun (menghalangi ke jalan Allâh), [8] ‘Adawah (biang permusuhan).



Waswasah (Bisikan)

Setan membisikkan manusia ke jalan kesesatan melalui berbagai perihal. Ketika berdiri, duduk, berjalan, bekerja, dan di setiap aktivitas. Setan tak pernah merasa lelah dan menyerah membelokkan jalan manusia. Ketika bekerja setan akan beraksi dengan menawarkan kesenangan dunia. Bisikan-bisikannya tajam nan menggiurkan, tak lain seputar manisnya dunia. Mensugesti manusia bahwa akhirat itu belum pasti adanya, sehingga mengajak manusia mengutamakan dunia dari pada akhirat. Membuyarkan niat ikhlas manusia untuk beramal ibadah dalam rangka mengharap ridha-Nya.



Nis-yan (Membuat lupa)

Setan melupakan manusia dari mengingat Allâh dalam setiap aktivitas kita. Orientasi kerja yang seharusnya untuk mengharap ridha-Nya dilenyapkan dari pikiran kita dan dibelokkan menjadi orientasi pemenuhan kebutuhan keduniaan semata. Berbagai komitmen menjalankan syari’at (jujur, bersungguh-sungguh, disiplin, dsb) perlahan-lahan dihapus dari memori kita. Sehingga pelan-pelan kita mulai menabrak batas-batas syari’at.

Allâh SWT berfirman, “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (Q.S. al-An’âm [6]: 68)



Tamani (Angan-angan)

Setan merekayasa sehingga pikiran kita penuh khayalan dan angan-angan kosong. Dalam keadaan apapun setan akan membuyarkan konsentrasi. Apabila setan sudah berhasil membuat kita lepas konsentrasi, maka selanjutnya setan membuat kita betah berkhayal. Hal ini telah ditegaskan Allâh SWT dalam Q.S al-Nisâ’, “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka …” (Q.S.al-Nisâ’ [4]: 19). Dan dikuatkan lagi pada ayat selanjutnya, “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 19)



Tazyin (Memandang indah maksiat)

Dengan segala kelihaiannya, berbagai bentuk kemaksiatan itu baik yang kecil maupun yang besar, dikemas dengan begitu menariknya. Apa yang menjadi tawaran setan seolah hal yang mampu membuat penasaran sehingga tidak sedikit manusia yang tergoda. Setan pandai memutar keadaan, mana yang baik di mata Allâh dijadikan menjemukan di mata manusia. Dan apa-apa yang buruk dijadikan menarik bagi manusia. Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (Q.S. al-Hijr [15]: 39)



Wa’dun (Janji palsu)

Tak ada yang ditawarkan setan selain janji palsu yang pada saat di akhirat ia tak akan mau menepatinya. Setan akan mengakui bahwa apa yang telah dijanjikannya adalah janji palsu, sekadar agar manusia mau mengikuti jalannya. Simaklah ayat berikut, “Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allâh telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allâh) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih” (Q.S. Ibrahim [14]: 22)



Kaidun (Tipu daya)

Karena sudah tau bahwa jalannya menyekutukan Allâh adalah sesat maka setan yakin pasti manusia tak akan ada yang mau mengikutinya. Oleh karena itu, dengan bualan manisnya, dalam merekrut pengikutnya setan menggunakan jalan menipu dan memperdaya. Bagi orang yang masih lemah imannya tentu akan dengan mudah ditipu dan diperdaya olehnya. Namun bagi yang telah memantapkan iman dan mengokohkan aqidah, maka perisai ketauhidan akan menjaganya dari tipuan setan. “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya” (Q.S. al-Nahl [16]: 99)



Shaddun (Menghalangi ke jalan Allâh)

Ketika kita berniat melakukan kebaikan, mereka akan selalu mengusik sehingga tak jarang kita dibuat ragu memulai pekerjaan. Kita dihalang-halangi sehingga kita berpikir ulang untuk melakukan suatu kebajikan. Setan membuat kita berpikir “nanti dulu” atau “sebentar lagi”. Mereka mengulur-ulur waktu agar kita tak segera memulai aktivitas. Mereka itu akan menjadi penghambat atau bahkan pembatal kita dalam berbuat kebaikan. Gangguan mereka akan terus ada hingga kita mengurungkan niat bekerja atau menanggalkan pekerjaan yang sedang kita lakukan.



‘Adawah (Biang permusuhan)

Sudah menjadi sunnatullâh bahwa di antara manusia itu pasti ada perbedaan. Mulai dari hal kecil sampai hal yang besar dan rumit. Dalam interaksi itu, hendaknya kita bersikap bijak, tetap tenang, dan saling menghargai. Sebab sedikit kesalahan berkomunikasi akan rawan sekali menimbulkan permusuhan di antara sesama manusia. “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu…” (Q.S. al-Mâ’idah [5]: 91)

Demikianlah berbagai jalan yang ditempuh setan dalam menyesatkan anak cucu Adam. Ibnu al-Qayyim rahimahullâh menyatakan bahwa jihad paling wajib ialah jihad melawan jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan dunia. Siapa berjihad melawan keempat hal itu karena Allâh, Dia memberinya petunjuk kepada jalan-jalan keridhaan-Nya, yang membawanya ke surga-Nya. Sebaliknya, siapa tidak berjihad melawan keempat hal itu, ia gagal mendapatkan petunjuk dan kadar kegagalannya tergantung kepada sejauh mana ia meninggalkan jihad. Semoga kita selalu mampu untuk saling menasihati agar sama-sama terhindar dari ajakan setan. Amîn.[]