Buat yang sudah nikah, mau nikah, punya niat untuk nikah. Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !”
Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati sa’at-sa’at bertengkar itu, sebagaimana l
ebih menikmati lagi sa’at sa’at tidak bertengkar.
Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.
Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah.
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah, makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”
Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”,saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah :)
2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..
3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.
Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!
4. Kalau marah jangan di depan anak anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita.
Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!
Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”
Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita ???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !
Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Illahi ….. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg……. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … :)
6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan (Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi sebuah film).
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”. Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.
www.facebook.com
Tampilkan postingan dengan label NASEHAT JODOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASEHAT JODOH. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 November 2012
... KESETIAAN DAN KESABARAN SEORANG SUAMI ...
Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Cerita berikut ini saya ambilkan dari kisah seorang sahabat di Surabaya, tempat saya berdomisili saat ini. Sebuah contoh kesabaran dan kesetiaan seorang suami pada istrinya yang patut dijadikan teladan bagi kita semua.
Rumah kontrakan kecil di wilayah kecamatan Wonokromo Surabaya, yang berisi kamar tidur dan sebuah dapu
r mini menjadi saksi bisu keindahan hidup suami istri ini, Rofi dan Tini. Kesederhanaan telah menjadi gambaran keseharian mereka. Rofi lelaki asal Surabaya, berprofesi sebagai tenaga kontrak sebuah perusahaan kontraktor bangunan di kota asalnya, dan Tini, istrinya, adalah seorang wanita lugu asal kota Reog, Ponorogo, yang berprofesi sebagai penjual bakso di depan rumah kontrakan mereka.
Rofi adalah tipe lelaki kurus, pendiam dan bersahaja yang hampir setiap hari selalu menyempatkan diri untuk sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya. Sedangkan Tini, wanita yang bertubuh agak gemuk, suka bercanda namun tetap bersahaja seperti halnya suaminya.
Dalam kesehariannya, jarang sekali perselisihan ditemukan dalam rumah tangga mereka, sehingga para tetangga menganggap mereka sebagai pasangan yang harmonis.
Hampir sepuluh tahun sudah perjalanan rumah tangga Rofi dan Tini, tapi sayang belum seorang anak pun yang Allah amanahkan kepada mereka. Resah yang Tini rasakan, apalagi jika melihat suaminya sering menggendong anak kecil, entah anak saudaranya ataupun anak tetangganya. Sedih pula hati kecilnya ketika ia merasa belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya dari rahimnya sendiri.
Tapi Tini bukanlah wanita yang lemah dan cengeng, walaupun kondisi fisiknya memburuk karena sakit dan berwajah tak secantik wanita pada umumnya, tapi ia adalah sosok wanita yang tegar dan ikhlas. Tegar tatkala ujian seperti ini datang melanda dirinya dan ikhlas tatkala mengizinkan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain agar bisa mendapatkan keturunan dari darah dagingnya sendiri.
Tapi dibalik tegar dan ikhlas yang coba ia tanamkan dalam benaknya, ada jerit tangis yang menyayat dalam jiwanya, jerit tangis seorang wanita. Selayaknya wanita lainnya, ia pun sebenarnya tak ingin dimadu dalam hidupnya. Tapi apa boleh buat, kenyataan membuatnya harus menerima keadaan ini.
Lain halnya dengan Rofi, Rofi tidaklah lelaki seperti kebanyakan. Sebagaimana istrinya, ia pun bukan lelaki lemah yang mudah tergoda bujuk rayu wanita lain meski telah mendapat izin dari istrinya untuk menikah. Ia adalah tipe laki-laki yang sabar dan setia.
Namun sebagai laki-laki normal tentu besar pula keinginannya untuk memiliki anak dari darah dagingnya sendiri sebagai penghibur dirinya tatkala lelah menghampiri, tapi ia tepiskan keinginannya itu jauh-jauh demi menjaga perasaan istrinya.
Lama sudah rasa resah itu melanda hati Tini. Bertambahlah resah itu saat Rofi, lelaki yang dicintainya, mendapat tugas kerja untuk jangka waktu yang lama di kota Sorong, Papua. Sebuah kota yang jauh dari tempat tinggalnya sekarang, Surabaya. Apalagi untuk orang kecil sepertinya, sebuah tiket pesawat ke Papua tentu menjadi barang yang mahal untuk ia dapatkan.
Setahun berlalu sejak keberangkatan suaminya ke Sorong, tak jarang hati Tini merasakan kerinduan yang teramat sangat. Apalagi sejak pertama berangkat hingga kini, belum sekalipun suaminya pulang untuk menjenguknya.
Hanya melalui telepon, suara Rofi yang gagah layaknya seorang laki-laki perkasa dari seberang sanalah yang sanggup meredam kerinduannya walau hanya sesaat. Itupun tidak setiap hari, hanya pada saat-saat tertentu saja suaminya menelpon dirinya.
Bila kemudian kerinduan itu datang lagi menerpa, kembali rasa resah dan gundah menghantui dirinya. Resah jika suaminya menikah lagi tanpa sepengetahuan dirinya. Dan gundah jika suaminya enggan kembali ke Jawa lantaran telah memiliki keluarga baru di sana dengan seorang istri yang cantik dan anak yang lucu.
Tapi ia tetap berusaha tegar dan ikhlas dengan apapun yang terjadi. Hanya doa-doa manis penenang jiwalah yang bisa ia panjatkan sekedar untuk menenangkan hatinya yang gelisah itu.
Belakangan, sudah beberapa lama ini Rofi, suaminya, tak kunjung menelpon dirinya. Tapi ia tetap bersikap tenang. Diingatnya sejumlah dialog yang pernah terjadi diantara mereka sebelum Rofi berangkat ke Sorong, Papua. Dialog seorang istri yang sedih lantaran ditinggal ke luar kota oleh suaminya dalam waktu yang lama, dan dialog seorang istri yang dengan berat hati mengizinkan suaminya untuk menikah kembali dengan wanita lain.
Tapi ada satu dialog yang selalu kan diingat dan dikenang olehnya, suatu jawaban bijak dari Rofi atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya yang cukup membuat hati Tini menjadi tenang,
“Sayang, kamu adalah segalanya bagiku. Allah anugerahkan kamu untukku sebagai pelangi yang senantiasa mewarnai hidupku. Senyummu adalah semangat jiwaku dan tangismu adalah duka batinku.
Jikalau Allah berkehendak mengamanahkan seorang anak untuk kita, tentulah teramat mudah bagiNya. Tapi jika Allah belum menghendaki seorang anakpun untuk kita, mungkin ada rahasia Allah dibalik itu yang takkan mudah kita pahami karena keterbatasan ilmu kita, manusia. Bila waktunya tiba, anak akan hadir walaupun kita tidak menginginkannya hadir, dan sebaliknya, anak tak akan hadir walau sesusah apapun kita menginginkannya untuk hadir. Karena itu adalah hak prerogatif Allah sepenuhnya yang telah dicatat olehNya dalam Lauhul Mahfudz.
Allah tahu apa yang terbaik untuk kita sekarang. Anak adalah amanah, anak adalah titipan, dan anak adalah tanggung jawab. Mungkin Allah menganggap kita belum mampu dan belum siap untuk memikul amanah itu sehingga Allah menundanya untuk kita.
Seandainya Allah kirimkan seorang anak saat ini, mungkin kamu akan terlalu sibuk mengurus anak kita sampai tak sempat lagi mengurus aku, suamimu, sehingga akupun menjadi terabaikan dan cemburu pada anak kita. Atau mungkin aku masih belum pantas menjadi seorang ayah karena Allah menganggap aku belum sanggup merawat anak kita lantaran berbagai keterbatasan yang kumiliki.
Sayang, mungkin Allah hendak menjadikan kita selayaknya Nabi Zakariyya yang dengan kesabarannya lalu dianugerahkan padanya seorang anak yang soleh padahal usianya sudah sangat renta. Atau mungkin Allah tak hendak menjadikan kita selayaknya Nabi Nuh yang diberikannya seorang anak namun kafir lagi mendurhakai Allah, Tuhannya, padahal ayahnya seorang nabi untuk umat di zamannya. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
Sayang, aku tahu kamu punya banyak kekurangan. Tapi tak selayaknya aku biarkan kekuranganmu itu menjadi aib bagimu. Aku adalah pakaian terindah untukmu dan kamu adalah pakaian terindah untukku, pakaian untuk menutup segala kekurangan yang ada dalam diriku dan dirimu. Betapapun banyaknya pakaian mahal dan indah yang bisa kubeli dan kupakai, tapi hanya ada satu pakaian terbaik yang melekat dalam tubuhku, dan pakaian itu adalah kamu.
Pakaian yang lain mungkin akan pudar dimakan zaman, pakaian lain mungkin akan luntur ditelan waktu, tapi kamu, adalah pakaian yang tak akan pernah pudar dan luntur selamanya, karena kamu adalah pakaian terbaik hidupku yang Allah persembahkan untuk aku. Lalu masih pantaskah aku untuk mencari pakaian-pakaian yang lain? Yang belum tentu bisa kudapatkan pakaian sebaik dan seindah kamu?
Seandainya aku jadi kamu dan aku menyuruhmu menikah lagi hanya karena aku tak dapat memberikanmu seorang anak, betapa naifnya aku telah menyia-nyiakanmu. Tak terbayangkan olehku betapa sakitnya hati yang kurasakan melihat kamu bercumbu mesra dengan orang lain yang menjadi maduku.
Tak terbayangkan pula olehku melihat kamu tersenyum bahagia padahal hatiku hancur luluh lantah bagai ditelan bumi. Demikian juga halnya denganku. Tak ingin rasanya aku melihatmu menangis karena tak kuasa menahan sakitnya hati diduakan.
Dan tak ingin pula aku tersenyum di atas derita batin yang kamu rasakan. Kamu adalah milikku satu-satunya di dunia ini dan begitu pula aku adalah milikmu satu-satunya dalam hidupmu yang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kamu tercipta untukku dan aku tercipta untukmu.
Sekarang kamu tenang ya sayang, jangan bersedih lagi. Insya Allah aku akan menjaga cinta ini untukmu selalu.”
Tit..tit..tit..tit.....
Getar suara pesan singkat dari handphone milik Tini mengejutkan keheningan malamnya. Sambil membuka pesan singkat yang baru diterimanya, diambilnya sebuah bingkai foto Rofi, suaminya, lalu didekapnya erat-erat dalam hangat peluknya. Tak lama pesan singkat itu dibacanya :
”Sayang baik-baik ya di sana, aku kan selalu merindukanmu di sini. I love u…
dari Rofi, suamimu.”
Semoga kita bisa mengambil ibroh dari membaca cerita ini ..
Waallohua’lam ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
www.facebook.com
Rumah kontrakan kecil di wilayah kecamatan Wonokromo Surabaya, yang berisi kamar tidur dan sebuah dapu
r mini menjadi saksi bisu keindahan hidup suami istri ini, Rofi dan Tini. Kesederhanaan telah menjadi gambaran keseharian mereka. Rofi lelaki asal Surabaya, berprofesi sebagai tenaga kontrak sebuah perusahaan kontraktor bangunan di kota asalnya, dan Tini, istrinya, adalah seorang wanita lugu asal kota Reog, Ponorogo, yang berprofesi sebagai penjual bakso di depan rumah kontrakan mereka.
Rofi adalah tipe lelaki kurus, pendiam dan bersahaja yang hampir setiap hari selalu menyempatkan diri untuk sholat berjamaah di mushola dekat rumahnya. Sedangkan Tini, wanita yang bertubuh agak gemuk, suka bercanda namun tetap bersahaja seperti halnya suaminya.
Dalam kesehariannya, jarang sekali perselisihan ditemukan dalam rumah tangga mereka, sehingga para tetangga menganggap mereka sebagai pasangan yang harmonis.
Hampir sepuluh tahun sudah perjalanan rumah tangga Rofi dan Tini, tapi sayang belum seorang anak pun yang Allah amanahkan kepada mereka. Resah yang Tini rasakan, apalagi jika melihat suaminya sering menggendong anak kecil, entah anak saudaranya ataupun anak tetangganya. Sedih pula hati kecilnya ketika ia merasa belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya dari rahimnya sendiri.
Tapi Tini bukanlah wanita yang lemah dan cengeng, walaupun kondisi fisiknya memburuk karena sakit dan berwajah tak secantik wanita pada umumnya, tapi ia adalah sosok wanita yang tegar dan ikhlas. Tegar tatkala ujian seperti ini datang melanda dirinya dan ikhlas tatkala mengizinkan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain agar bisa mendapatkan keturunan dari darah dagingnya sendiri.
Tapi dibalik tegar dan ikhlas yang coba ia tanamkan dalam benaknya, ada jerit tangis yang menyayat dalam jiwanya, jerit tangis seorang wanita. Selayaknya wanita lainnya, ia pun sebenarnya tak ingin dimadu dalam hidupnya. Tapi apa boleh buat, kenyataan membuatnya harus menerima keadaan ini.
Lain halnya dengan Rofi, Rofi tidaklah lelaki seperti kebanyakan. Sebagaimana istrinya, ia pun bukan lelaki lemah yang mudah tergoda bujuk rayu wanita lain meski telah mendapat izin dari istrinya untuk menikah. Ia adalah tipe laki-laki yang sabar dan setia.
Namun sebagai laki-laki normal tentu besar pula keinginannya untuk memiliki anak dari darah dagingnya sendiri sebagai penghibur dirinya tatkala lelah menghampiri, tapi ia tepiskan keinginannya itu jauh-jauh demi menjaga perasaan istrinya.
Lama sudah rasa resah itu melanda hati Tini. Bertambahlah resah itu saat Rofi, lelaki yang dicintainya, mendapat tugas kerja untuk jangka waktu yang lama di kota Sorong, Papua. Sebuah kota yang jauh dari tempat tinggalnya sekarang, Surabaya. Apalagi untuk orang kecil sepertinya, sebuah tiket pesawat ke Papua tentu menjadi barang yang mahal untuk ia dapatkan.
Setahun berlalu sejak keberangkatan suaminya ke Sorong, tak jarang hati Tini merasakan kerinduan yang teramat sangat. Apalagi sejak pertama berangkat hingga kini, belum sekalipun suaminya pulang untuk menjenguknya.
Hanya melalui telepon, suara Rofi yang gagah layaknya seorang laki-laki perkasa dari seberang sanalah yang sanggup meredam kerinduannya walau hanya sesaat. Itupun tidak setiap hari, hanya pada saat-saat tertentu saja suaminya menelpon dirinya.
Bila kemudian kerinduan itu datang lagi menerpa, kembali rasa resah dan gundah menghantui dirinya. Resah jika suaminya menikah lagi tanpa sepengetahuan dirinya. Dan gundah jika suaminya enggan kembali ke Jawa lantaran telah memiliki keluarga baru di sana dengan seorang istri yang cantik dan anak yang lucu.
Tapi ia tetap berusaha tegar dan ikhlas dengan apapun yang terjadi. Hanya doa-doa manis penenang jiwalah yang bisa ia panjatkan sekedar untuk menenangkan hatinya yang gelisah itu.
Belakangan, sudah beberapa lama ini Rofi, suaminya, tak kunjung menelpon dirinya. Tapi ia tetap bersikap tenang. Diingatnya sejumlah dialog yang pernah terjadi diantara mereka sebelum Rofi berangkat ke Sorong, Papua. Dialog seorang istri yang sedih lantaran ditinggal ke luar kota oleh suaminya dalam waktu yang lama, dan dialog seorang istri yang dengan berat hati mengizinkan suaminya untuk menikah kembali dengan wanita lain.
Tapi ada satu dialog yang selalu kan diingat dan dikenang olehnya, suatu jawaban bijak dari Rofi atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya yang cukup membuat hati Tini menjadi tenang,
“Sayang, kamu adalah segalanya bagiku. Allah anugerahkan kamu untukku sebagai pelangi yang senantiasa mewarnai hidupku. Senyummu adalah semangat jiwaku dan tangismu adalah duka batinku.
Jikalau Allah berkehendak mengamanahkan seorang anak untuk kita, tentulah teramat mudah bagiNya. Tapi jika Allah belum menghendaki seorang anakpun untuk kita, mungkin ada rahasia Allah dibalik itu yang takkan mudah kita pahami karena keterbatasan ilmu kita, manusia. Bila waktunya tiba, anak akan hadir walaupun kita tidak menginginkannya hadir, dan sebaliknya, anak tak akan hadir walau sesusah apapun kita menginginkannya untuk hadir. Karena itu adalah hak prerogatif Allah sepenuhnya yang telah dicatat olehNya dalam Lauhul Mahfudz.
Allah tahu apa yang terbaik untuk kita sekarang. Anak adalah amanah, anak adalah titipan, dan anak adalah tanggung jawab. Mungkin Allah menganggap kita belum mampu dan belum siap untuk memikul amanah itu sehingga Allah menundanya untuk kita.
Seandainya Allah kirimkan seorang anak saat ini, mungkin kamu akan terlalu sibuk mengurus anak kita sampai tak sempat lagi mengurus aku, suamimu, sehingga akupun menjadi terabaikan dan cemburu pada anak kita. Atau mungkin aku masih belum pantas menjadi seorang ayah karena Allah menganggap aku belum sanggup merawat anak kita lantaran berbagai keterbatasan yang kumiliki.
Sayang, mungkin Allah hendak menjadikan kita selayaknya Nabi Zakariyya yang dengan kesabarannya lalu dianugerahkan padanya seorang anak yang soleh padahal usianya sudah sangat renta. Atau mungkin Allah tak hendak menjadikan kita selayaknya Nabi Nuh yang diberikannya seorang anak namun kafir lagi mendurhakai Allah, Tuhannya, padahal ayahnya seorang nabi untuk umat di zamannya. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
Sayang, aku tahu kamu punya banyak kekurangan. Tapi tak selayaknya aku biarkan kekuranganmu itu menjadi aib bagimu. Aku adalah pakaian terindah untukmu dan kamu adalah pakaian terindah untukku, pakaian untuk menutup segala kekurangan yang ada dalam diriku dan dirimu. Betapapun banyaknya pakaian mahal dan indah yang bisa kubeli dan kupakai, tapi hanya ada satu pakaian terbaik yang melekat dalam tubuhku, dan pakaian itu adalah kamu.
Pakaian yang lain mungkin akan pudar dimakan zaman, pakaian lain mungkin akan luntur ditelan waktu, tapi kamu, adalah pakaian yang tak akan pernah pudar dan luntur selamanya, karena kamu adalah pakaian terbaik hidupku yang Allah persembahkan untuk aku. Lalu masih pantaskah aku untuk mencari pakaian-pakaian yang lain? Yang belum tentu bisa kudapatkan pakaian sebaik dan seindah kamu?
Seandainya aku jadi kamu dan aku menyuruhmu menikah lagi hanya karena aku tak dapat memberikanmu seorang anak, betapa naifnya aku telah menyia-nyiakanmu. Tak terbayangkan olehku betapa sakitnya hati yang kurasakan melihat kamu bercumbu mesra dengan orang lain yang menjadi maduku.
Tak terbayangkan pula olehku melihat kamu tersenyum bahagia padahal hatiku hancur luluh lantah bagai ditelan bumi. Demikian juga halnya denganku. Tak ingin rasanya aku melihatmu menangis karena tak kuasa menahan sakitnya hati diduakan.
Dan tak ingin pula aku tersenyum di atas derita batin yang kamu rasakan. Kamu adalah milikku satu-satunya di dunia ini dan begitu pula aku adalah milikmu satu-satunya dalam hidupmu yang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Kamu tercipta untukku dan aku tercipta untukmu.
Sekarang kamu tenang ya sayang, jangan bersedih lagi. Insya Allah aku akan menjaga cinta ini untukmu selalu.”
Tit..tit..tit..tit.....
Getar suara pesan singkat dari handphone milik Tini mengejutkan keheningan malamnya. Sambil membuka pesan singkat yang baru diterimanya, diambilnya sebuah bingkai foto Rofi, suaminya, lalu didekapnya erat-erat dalam hangat peluknya. Tak lama pesan singkat itu dibacanya :
”Sayang baik-baik ya di sana, aku kan selalu merindukanmu di sini. I love u…
dari Rofi, suamimu.”
Semoga kita bisa mengambil ibroh dari membaca cerita ini ..
Waallohua’lam ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
www.facebook.com
= Istriku Tidak Cantik =
Istriku tidak cantik, standar dan biasa saja. Aku juga sadar bahwa dia tidak cantik dan kalau bersanding denganku maka aku nampak lebih rupawan dari dia. Badannya kecil ada dibawah dadaku, juga kulitnya agak hitam, lebih putih kulitku, satu lagi kakinya agak pincang, yang kanan lebih kecil sedikit daripada yang kiri.
Aku menyadarinya ketika aku sudah menikahinya, namun
aku sadar bahwa aku telah memilih dia dengan ikhlas dihatiku, kan aku yang memilih, bukan dia yang memaksa, dan walau istriku tidak cantik, namun aku mencintainya. Allah taburkan rasa cinta itu ketika malam pertama aku bersamanya.
Dimataku dia tetap tidak cantik, namun aku nyaman bila melihat senyumannya. Dia selalu menerima apa adanya aku, sempat aku pulang tidak bawa gaji seperti yang dijanjikan di lembar penerimaan karyawan bahwa gajiku tertera 4 juta sekian-sekian, namun karena aku selalu terlambat dan juga sering bolos lantaran mengantar si kecil ke rumah sakit dan juga si sulung ke sekolah maka hampir 40 % gajiku dipotong.
Subhanallah dia tidak bersungut, malah segera bersiap menukar menu makanan dengan yang lebih sederhana dan bersikeras meminjam komputer butut kami untuk menulis artikel yang dikirimkannya ke beberapa majalah yang terkadang satu atau dua artikel ditayangkan, dan baginya itu sudah Alhamdulillah bisa menambah sambung susu anakku.
Istriku tidak cantik, namun aku ingat, banyak sekali sumber daya alam yang buruk bahkan legam dan membuat tangan kotor namun tetap dicari, diburu dan dipertahankan orang, seperti batubara. Istriku mungkin bukan emas, dia mungkin batubara, keberadaannya selalu menghangatkan hatiku dan selalu membuatku tidak merasakan resah.
Aku membayangkan bila aku menyimpan batubara satu kilo dirumahku dibandingkan dengan menyimpan emas satu kilo dirumahku, maka aku tidak akan dapat berjaga semalaman bila emas yang kusimpan. Namun bila batubara yang ku simpan, aku masih punya izzah ada barang yang ku simpan yang cukup berharga, namun aku tetap dapat tidur nyenyak dengannya.
Bayangkan bila istriku sangat cantik, mungkin aku tidak akan tenang membayangkan dia ke pasar dilirik semua lelaki, membayangkan dia sms-an dengan bekas pacar-pacarnya dulu, membayangkan mungkin dia bosan padaku. Akh.. aku bersyukur istriku tidak cantik sehingga aku bisa tidur nyenyak walau banyak nyamuk sekalipun. Istriku tidak cantik, namun dia adalah istri terbaik untukku.
Kamis, 15 November 2012
..AKHIR PEKAN DI DALAM RUMAH SUAMIKU...
Akhir pekan adalah hari yang selalu ku tunggu , karena pada akhir pekan setahun belakangan ini selalu hadir untaian kata , keceriaan dan kebersamaan di rumah suamiku ,
Dan akhir pekan setahun belakangan ini alat komunikasi suamiku selalu dalam keadaan off, hingga kami bisa benar benar merasakan kebersamaan , kaluapun suamiku menghidupkannya hanya sesekali
menjelang dzuhur dan Maghrib ...
Namun akhir pekan ini anakku terlihat muram dan memandang ayahnya yang sedang mencuci pakaian dengan pandangan tidak suka , dan ini tak biasanya , karena selama kami menikah pekerjaan mencuci pakaian memang sudah menjadi kebiasaan suamiku , namun entah kenapa akhir minggu ini anakku seolah tak suka ...
Kupandangi anakku , sambil memasak dan kulihat ia tak sabar melihat ayahnya menyelesaikan pekerjaan mencuci pakaian , aku tak berani menegurnya mungkin anakku sedang ingin segera bermanja manja dengan ayahnya ...
Selang sejam ku lihat suamiku mulai menjemur pakaian yang dicucinya , dan anakku terlihat menunggu di ruang keluarga tempat kami makan bersama , akupun telah selesai memasak dan segera ku siapkan makanan , anak ku bangkit dan mulai membantu dengan setengah hati sambil sesekali melihat ayahnya ...
Tak lama , suamiku telah selesai dan membersihkan badannya kemudian berkumpul bersama kami , seperti biasa suamiku mengajak kami berdo’a sebelum makan dan mulailah sebuah percakapan yang didahului oleh anakku ...
“ayah, boleh kaka bertanya sesuatu kepada ayah ? “
Suamiku menghentikan suapannya sambil tersenyum
“tentu saja boleh ... tapi selesai makan ya ? tak baik bercakap cakap ketika kita sedang makan .... “
Anakku mengangguk, walau tersirat ia ingin memuntahkan beban tanya yang ada dihatinya ....
Selesai makan , suamiku mengajak anakku meneruskan percakapan yang terpotong ...
“Nah sekarang kaka mau tanya apa ? “
“hmmm , ayah takkan marah khan ? “ tanya anakku meragu
“Mengapa Harus Marah ? ayo ayah tak pernah mengajarkan pada kaka untuk ragu bila ada ganjalan di hati kaka .... “
“hmm ayah tak malu mengerjakan pekerjaan mencuci baju yang harusnya dilakukan oleh Ibu ? “
Suamiku tersenyum dan menunggu anakku meneruskan kata katanya
“kaka malu ayah , minggu kemarin teman kaka melihat ayah sedang mencuci baju dan mengatakan kalau ayah seorang suami yang takut istri hingga pekerjaan yang menjadi kewajiban seorang istri dilakukan ayah ,.... “
Terlihat suamiku mendekat dan memeluk anakku , dan aku seperti tersindir oleh kata kata anakku , ach istri macam apa aku ini rutuk hatiku ...
“Anakku , mengapa harus malu ? ayahmu hanya mengerjakan sebagian kecil pekerjaan ibumu dari sekian banyak pekerjaan yang harus ibu mu kerjakan di rumah kita , bahkan ayah merasa terlalu membebani ibumu dengan pekerjaan yang selama ini dikerjakannya , ...”
Anakku terlihat menatap ayahnya dengan gurat wajah penuh tanya
“Anakku , dengarlah Rasulullah Shalalallahu Alaihi Wasalam panutan kita saja masih mengerjakan pekerjaan yang dilakukan oleh kaum istri dan beliau bukan takut kepada istrinya , begitupun para Sahabatnya bahkan Umar Ibnul Khatab pun melakukan apa yang dikerjakan oleh Rasulullah , ... “
“Ayahmu ini hanya ingin mencontoh apa yang telah dilakukan Rasulullah lakukan dalam keluarganya , karena seperti yang sering ayah amanahkan padamu Cintailah Allah dan RasulNya melebihi kecintaanmu pada insan lain , dan salah satu upaya ayah adalah mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah ... “
“Tiada kehinaan dalam menjalani sunnah Rasulullah anakku , lupakah kaka pada nasehat Ayah ? “
Anakku terdiam dan suamiku melanjutkannya
“Jadikanlah pandangan Allah dan RasulNya sebagai pandangan yang engkau Ridloi , sedang pandangan Insan terkadang hanya melihat dari segi lahiriah saja , camkanlah itu anakku , dan maafkan ayah bila ayah telah membuatmu malu dihadapan teman teman mu ... , “
“Tidak ayah , kaka yang harusnya minta maaf , tak seharusnya kaka terlalu mendengar kata kata teman kaka , kaka sayang ayah , dan kaka bangga punya ayah .... maafkan kaka ya ?”
Kulihat suamiku memeluk anakku erat dan mereka kembali bercengkrama dengan tawa renyah anakku
Ah...
sekarang mengapa justru aku yang merasa risih ?
Ya Rabb hidayahkan kepadaku ilmu Mu untuk memahami setiap gerak langkah suamiku ...
suamiku maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang baik ...
www.facebook.com fanspage air mata muslimah
Dan akhir pekan setahun belakangan ini alat komunikasi suamiku selalu dalam keadaan off, hingga kami bisa benar benar merasakan kebersamaan , kaluapun suamiku menghidupkannya hanya sesekali
menjelang dzuhur dan Maghrib ...
Namun akhir pekan ini anakku terlihat muram dan memandang ayahnya yang sedang mencuci pakaian dengan pandangan tidak suka , dan ini tak biasanya , karena selama kami menikah pekerjaan mencuci pakaian memang sudah menjadi kebiasaan suamiku , namun entah kenapa akhir minggu ini anakku seolah tak suka ...
Kupandangi anakku , sambil memasak dan kulihat ia tak sabar melihat ayahnya menyelesaikan pekerjaan mencuci pakaian , aku tak berani menegurnya mungkin anakku sedang ingin segera bermanja manja dengan ayahnya ...
Selang sejam ku lihat suamiku mulai menjemur pakaian yang dicucinya , dan anakku terlihat menunggu di ruang keluarga tempat kami makan bersama , akupun telah selesai memasak dan segera ku siapkan makanan , anak ku bangkit dan mulai membantu dengan setengah hati sambil sesekali melihat ayahnya ...
Tak lama , suamiku telah selesai dan membersihkan badannya kemudian berkumpul bersama kami , seperti biasa suamiku mengajak kami berdo’a sebelum makan dan mulailah sebuah percakapan yang didahului oleh anakku ...
“ayah, boleh kaka bertanya sesuatu kepada ayah ? “
Suamiku menghentikan suapannya sambil tersenyum
“tentu saja boleh ... tapi selesai makan ya ? tak baik bercakap cakap ketika kita sedang makan .... “
Anakku mengangguk, walau tersirat ia ingin memuntahkan beban tanya yang ada dihatinya ....
Selesai makan , suamiku mengajak anakku meneruskan percakapan yang terpotong ...
“Nah sekarang kaka mau tanya apa ? “
“hmmm , ayah takkan marah khan ? “ tanya anakku meragu
“Mengapa Harus Marah ? ayo ayah tak pernah mengajarkan pada kaka untuk ragu bila ada ganjalan di hati kaka .... “
“hmm ayah tak malu mengerjakan pekerjaan mencuci baju yang harusnya dilakukan oleh Ibu ? “
Suamiku tersenyum dan menunggu anakku meneruskan kata katanya
“kaka malu ayah , minggu kemarin teman kaka melihat ayah sedang mencuci baju dan mengatakan kalau ayah seorang suami yang takut istri hingga pekerjaan yang menjadi kewajiban seorang istri dilakukan ayah ,.... “
Terlihat suamiku mendekat dan memeluk anakku , dan aku seperti tersindir oleh kata kata anakku , ach istri macam apa aku ini rutuk hatiku ...
“Anakku , mengapa harus malu ? ayahmu hanya mengerjakan sebagian kecil pekerjaan ibumu dari sekian banyak pekerjaan yang harus ibu mu kerjakan di rumah kita , bahkan ayah merasa terlalu membebani ibumu dengan pekerjaan yang selama ini dikerjakannya , ...”
Anakku terlihat menatap ayahnya dengan gurat wajah penuh tanya
“Anakku , dengarlah Rasulullah Shalalallahu Alaihi Wasalam panutan kita saja masih mengerjakan pekerjaan yang dilakukan oleh kaum istri dan beliau bukan takut kepada istrinya , begitupun para Sahabatnya bahkan Umar Ibnul Khatab pun melakukan apa yang dikerjakan oleh Rasulullah , ... “
“Ayahmu ini hanya ingin mencontoh apa yang telah dilakukan Rasulullah lakukan dalam keluarganya , karena seperti yang sering ayah amanahkan padamu Cintailah Allah dan RasulNya melebihi kecintaanmu pada insan lain , dan salah satu upaya ayah adalah mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah ... “
“Tiada kehinaan dalam menjalani sunnah Rasulullah anakku , lupakah kaka pada nasehat Ayah ? “
Anakku terdiam dan suamiku melanjutkannya
“Jadikanlah pandangan Allah dan RasulNya sebagai pandangan yang engkau Ridloi , sedang pandangan Insan terkadang hanya melihat dari segi lahiriah saja , camkanlah itu anakku , dan maafkan ayah bila ayah telah membuatmu malu dihadapan teman teman mu ... , “
“Tidak ayah , kaka yang harusnya minta maaf , tak seharusnya kaka terlalu mendengar kata kata teman kaka , kaka sayang ayah , dan kaka bangga punya ayah .... maafkan kaka ya ?”
Kulihat suamiku memeluk anakku erat dan mereka kembali bercengkrama dengan tawa renyah anakku
Ah...
sekarang mengapa justru aku yang merasa risih ?
Ya Rabb hidayahkan kepadaku ilmu Mu untuk memahami setiap gerak langkah suamiku ...
suamiku maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang baik ...
www.facebook.com fanspage air mata muslimah
Senin, 15 Oktober 2012
Belahan Jiwa
Puluhan tahun sudah kita hidup; dan pada saat yg bersamaan kita juga telah berkenalan dgn ratusan bahkan mungkin dgn ribuan orang , tetapi pernahkan Anda bertemu atau berkenalan dgn "Belahan Jiwa" Anda yg sebenarnya?
Pertanyaan ini saya ajukan bukan hanya untuk para jomblo yg belum nikah saja, tetapi juga bagi mereka yg telah puluhan tahun menikah! Kenapa?
Pasangan biologis belum tentu identis dgn pasangan rohani Anda, kagak percaya lihat saja statistik perceraian maupun dilingkungan kenalan Anda, walaupun mereka sudah menikah puluhan tahun, tetapi kenyataannya hidup mereka sama saja seperti layaknya anjing dan kucing, apabila tidak ribut terus, maka si kucing akan terus mencari pasangan kucing lainnya baca PIL sedangkan si anjing akan mencari pasangan anjing lainnya baca WIL!
Belahan Jiwa atau Pasangan Rohani atau lebih keren lagi disebut sebagai "Soulmate" bukannya hasil dari pilihan kita sendiri, melainkan telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Sejak jiwa Anda memasuki tubuh, Anda telah ditakdirkan untuk bersama dgn jiwa yg lain atau belahan jiwa Anda.
Tanya saja sama diri sendiri, walaupun mungkin Anda telah menikah dan hidup dibawah satu atap puluhan tahun lamanya dgn pasangan hidup Anda, tetapi rasanya tetap saja seperti dua insan yg berlainan, bahkan merasa seperti juga hidup dgn makhluk dari planet lain. Karena dia bukanlah belahan jiwa Anda dan dia bukanlah pasangan rohani Anda! Percayalah apabila Anda dapat menemukannya, bahkan bisa hidup dgn pasangan rohani Anda, maka hidup ini pasti akan jauh lebih indah dan lebih mudah untuk dijalani.
Soulmate tidak harus memiliki pemikiran maupun perasaan yg sama, karena Sang Pencipta bukannya ingin menciptakan dupikatnya Anda, melainkan bagian jiwa Anda yg lainnya; yang tidak identis seperti yg Anda miliki pada saat sekarang ini. Soulmate adalah pasangan yg akan melengkapi kekurangan yg ada di dlm diri Anda, bahkan ia juga akan dapat memenuhi kebutuhan rohani Anda.
Soulmate akan dapat mengisi rasa kesepian kita, dan akan membuat kita selalu merasa nyaman berada di dekatnya, ia juga akan selalu bersedia untuk meluangkan waktu; mendengarkan atau pun berbicara dgn Anda. Terlebih dari segalanya ia dapat mengasihi Anda sepenuhnya dgn segala kelebihan maupun kekurangan2 Anda, karena ia adalah belahan jiwa Anda sendiri. Selain rasa saling menikmati kebersamaan, soulmate akan selalu ada dimana saat Anda membutuhkannya, karena dgn dia kita bisa berbagi suka maupun duka untuk menangis bersama, maupun tertawa bersama dengannya.
Sesuai dgn namanya pasangan "rohani" jadi ini bertolak belakang dgn pasangan jasmani, dimana untuk mencari pasangan jasmani kita akan memilih berdasarkan kriteria, kekayaan, wajah bentuk tubuh, pendidikan, keturunan ataupun pangkat. Dan untuk pasangan rohan tidak akan ada ketergantungan lagi dlm soal sex satu dgn yg lain, karena faktor kebersamaan ada jauh lebih penting daripada sex.
Bila jiwa Anda mengalami luka batin, pasti kita mengharapkan seseorang yg mau meluangkan waktu dan yg mau mendengarkan keluh kesah maupun kesedihan kita. Dan apabila Anda telah menemukan belahan jiwa Anda, maka ia akan senantiasa dapat menciptakan suatu dunia di mana Anda bisa tinggal dgn nyaman dan perasaan terlindung di dalamnya.
Tetapi dilain pihak apabila Anda telah menemukannya, maka pada saat Anda kehilangan dia, Anda akan merasa seperti juga kehilangan sesuatu yg paling berharga di atas dunia ini yg membuat Anda menjadi kesepian, terpencil dalam perasaan yg paling dalam yg akan selalu menghantui Anda siang dan malam. Disamping itu apabila Anda kehilangan pasangan jiwa Anda, ini tidak mungkin akan bisa digantikan oleh siapapun juga di kolong langit ini, sebab Allah hanya menciptakan SATU saja pasangan atau belahan jiwa untuk Anda. Seorang soulmate akan memberikan konstribusi besar dlm proses hidup kita dan tanpa kehadirannya, hati kita akan merasa tersiksa berat, karena ketiadaannya.
Untuk dapat mengetahui dan menilai apakah si "Dia" itu belahan jiwa Anda ataukah bukan, ini bisa dinilai berdasarkan kriteria2 seperti yg tercantum diatas ini.
Perlu diketahui tidak semua orang akan diberikan anugerah atau kesempatan untuk bisa menemukan pasangan rohaninya, mungkin karena dosa2 kita, mungkin karena kesalahan kita sendiri yg tidak sabaran lagi untuk menunggu saatnya dimana Sang Pencipta mempertemukan soulmate kita, sehingga akhirnya kita memilih pasangan hidup atau pasangan biologis yg bukanlah belahan jiwa kita yg sebenarnya.
Atau bisa juga kebalikannya dimana belahan jiwa kita telah memilih dan menikahi pasangan biologis lainnya, sehingga janganlah heran apabila kita jatuh cinta kepada seseorang yg telah berkeluarga, karena kita merasakan banyak sekali kecocokan di dlm dirinya.
Apabila Anda telah menemukan belahan jiwa Anda, peliharalah dia sebaik mungkin. Perlu diketahui bahwa Soulmate tidak membutuhkan sesuatu yg mahal, yang wah atau yang ruaa..r biasa, namum ia menuntut kesetiaan dan keberadaan Anda, sediakanlah waktu sejenak untuknya. Disamping itu yg diinginkan oleh setiap jiwa manusia di dunia ini adalah perhatian dan kasih sayang. Ungkapkanlah perasaan sayang Anda dengan sepenuh hati, bukan hanya sekedar dengan kata2 saja, melainkan juga dgn belaian2 maupun sentuhan2 lembut dgn penuh rasa kasih, sambil mengucapkan:I love You - from.....
Dan usahakanlah bukan hanya setahun sekali saja disaat hari raya , rasa kasih sayang diungkapkan , melainkan setiap hari dan sepanjang tahun.
Tanyalah terhadap diri Anda sendiri, kapankah Anda terakhir kalinya mengungkapkan rasa kasih sayang Anda terhadap orang yg Anda kasihi?
dari millis motivasi
https://www.facebook.com/pages/BERANDA-KITA/153300751403292?fref=ts
Pertanyaan ini saya ajukan bukan hanya untuk para jomblo yg belum nikah saja, tetapi juga bagi mereka yg telah puluhan tahun menikah! Kenapa?
Pasangan biologis belum tentu identis dgn pasangan rohani Anda, kagak percaya lihat saja statistik perceraian maupun dilingkungan kenalan Anda, walaupun mereka sudah menikah puluhan tahun, tetapi kenyataannya hidup mereka sama saja seperti layaknya anjing dan kucing, apabila tidak ribut terus, maka si kucing akan terus mencari pasangan kucing lainnya baca PIL sedangkan si anjing akan mencari pasangan anjing lainnya baca WIL!
Belahan Jiwa atau Pasangan Rohani atau lebih keren lagi disebut sebagai "Soulmate" bukannya hasil dari pilihan kita sendiri, melainkan telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Sejak jiwa Anda memasuki tubuh, Anda telah ditakdirkan untuk bersama dgn jiwa yg lain atau belahan jiwa Anda.
Tanya saja sama diri sendiri, walaupun mungkin Anda telah menikah dan hidup dibawah satu atap puluhan tahun lamanya dgn pasangan hidup Anda, tetapi rasanya tetap saja seperti dua insan yg berlainan, bahkan merasa seperti juga hidup dgn makhluk dari planet lain. Karena dia bukanlah belahan jiwa Anda dan dia bukanlah pasangan rohani Anda! Percayalah apabila Anda dapat menemukannya, bahkan bisa hidup dgn pasangan rohani Anda, maka hidup ini pasti akan jauh lebih indah dan lebih mudah untuk dijalani.
Soulmate tidak harus memiliki pemikiran maupun perasaan yg sama, karena Sang Pencipta bukannya ingin menciptakan dupikatnya Anda, melainkan bagian jiwa Anda yg lainnya; yang tidak identis seperti yg Anda miliki pada saat sekarang ini. Soulmate adalah pasangan yg akan melengkapi kekurangan yg ada di dlm diri Anda, bahkan ia juga akan dapat memenuhi kebutuhan rohani Anda.
Soulmate akan dapat mengisi rasa kesepian kita, dan akan membuat kita selalu merasa nyaman berada di dekatnya, ia juga akan selalu bersedia untuk meluangkan waktu; mendengarkan atau pun berbicara dgn Anda. Terlebih dari segalanya ia dapat mengasihi Anda sepenuhnya dgn segala kelebihan maupun kekurangan2 Anda, karena ia adalah belahan jiwa Anda sendiri. Selain rasa saling menikmati kebersamaan, soulmate akan selalu ada dimana saat Anda membutuhkannya, karena dgn dia kita bisa berbagi suka maupun duka untuk menangis bersama, maupun tertawa bersama dengannya.
Sesuai dgn namanya pasangan "rohani" jadi ini bertolak belakang dgn pasangan jasmani, dimana untuk mencari pasangan jasmani kita akan memilih berdasarkan kriteria, kekayaan, wajah bentuk tubuh, pendidikan, keturunan ataupun pangkat. Dan untuk pasangan rohan tidak akan ada ketergantungan lagi dlm soal sex satu dgn yg lain, karena faktor kebersamaan ada jauh lebih penting daripada sex.
Bila jiwa Anda mengalami luka batin, pasti kita mengharapkan seseorang yg mau meluangkan waktu dan yg mau mendengarkan keluh kesah maupun kesedihan kita. Dan apabila Anda telah menemukan belahan jiwa Anda, maka ia akan senantiasa dapat menciptakan suatu dunia di mana Anda bisa tinggal dgn nyaman dan perasaan terlindung di dalamnya.
Tetapi dilain pihak apabila Anda telah menemukannya, maka pada saat Anda kehilangan dia, Anda akan merasa seperti juga kehilangan sesuatu yg paling berharga di atas dunia ini yg membuat Anda menjadi kesepian, terpencil dalam perasaan yg paling dalam yg akan selalu menghantui Anda siang dan malam. Disamping itu apabila Anda kehilangan pasangan jiwa Anda, ini tidak mungkin akan bisa digantikan oleh siapapun juga di kolong langit ini, sebab Allah hanya menciptakan SATU saja pasangan atau belahan jiwa untuk Anda. Seorang soulmate akan memberikan konstribusi besar dlm proses hidup kita dan tanpa kehadirannya, hati kita akan merasa tersiksa berat, karena ketiadaannya.
Untuk dapat mengetahui dan menilai apakah si "Dia" itu belahan jiwa Anda ataukah bukan, ini bisa dinilai berdasarkan kriteria2 seperti yg tercantum diatas ini.
Perlu diketahui tidak semua orang akan diberikan anugerah atau kesempatan untuk bisa menemukan pasangan rohaninya, mungkin karena dosa2 kita, mungkin karena kesalahan kita sendiri yg tidak sabaran lagi untuk menunggu saatnya dimana Sang Pencipta mempertemukan soulmate kita, sehingga akhirnya kita memilih pasangan hidup atau pasangan biologis yg bukanlah belahan jiwa kita yg sebenarnya.
Atau bisa juga kebalikannya dimana belahan jiwa kita telah memilih dan menikahi pasangan biologis lainnya, sehingga janganlah heran apabila kita jatuh cinta kepada seseorang yg telah berkeluarga, karena kita merasakan banyak sekali kecocokan di dlm dirinya.
Apabila Anda telah menemukan belahan jiwa Anda, peliharalah dia sebaik mungkin. Perlu diketahui bahwa Soulmate tidak membutuhkan sesuatu yg mahal, yang wah atau yang ruaa..r biasa, namum ia menuntut kesetiaan dan keberadaan Anda, sediakanlah waktu sejenak untuknya. Disamping itu yg diinginkan oleh setiap jiwa manusia di dunia ini adalah perhatian dan kasih sayang. Ungkapkanlah perasaan sayang Anda dengan sepenuh hati, bukan hanya sekedar dengan kata2 saja, melainkan juga dgn belaian2 maupun sentuhan2 lembut dgn penuh rasa kasih, sambil mengucapkan:I love You - from.....
Dan usahakanlah bukan hanya setahun sekali saja disaat hari raya , rasa kasih sayang diungkapkan , melainkan setiap hari dan sepanjang tahun.
Tanyalah terhadap diri Anda sendiri, kapankah Anda terakhir kalinya mengungkapkan rasa kasih sayang Anda terhadap orang yg Anda kasihi?
dari millis motivasi
https://www.facebook.com/pages/BERANDA-KITA/153300751403292?fref=ts
Minggu, 03 Juni 2012
Jodoh…???? Jodoh...????
>>>> Pengetahuan Jodoh>>>>
Apa yang membuat hubungan kalian awet
Apa yang membuat kalian berpisah
Dan di mata kalian pasangan kalian itu orangnya seperti
apa Jawaban atas pertanyaanku di atas adalah
Yang dicari dalam setiap diri pasangan adalah sebuah
kecocokan, keharmonisan, keserasian
Yang membuat hubungan awet adalah saling pengertian,
komunikasi yang nyambung, keterbukaan, dan toleransi
yang membuat berpisah adalah terlalu sering salah paham (komunikasi kurang baik), egoisme, tidak saling
mengerti, mau menang sendiri
Orang yang special dan bisa diajak tukar pikiran, bisa
memberikan input, bisa berbagi, dan saling mendukung. Ada lagi satu pertanyaan yang aku ajukan, apakah
pasangan kalian (khusus buat yang sudah menikah)
memiliki karakter yang sama, kepribadian yang sama,
kebiasaan yang sama, sifat yang sama, atau justru
berbeda..??? dan jawabannya, yang memiliki hubungan awet justru
mereka yang memiliki karakter yang berbeda, sifat yang
berbeda tetapi ada kesamaan yang membuat mereka
bersatu, bahkan temenku dia dan istrinya punya
sifat, kepribadian, karakter yang sangat berbeda, seperti
yang satunya malas, yang satunya rajin, yang satunya pendiam, yang satunya banyak bicara, yang satunya
rapi yang satunya berantakan, dan katanya justru
karena berbeda itulah makanya saling melengkapi,
sedangkan dengan mantannya dulu yang secara
kepribadian, karakter, sifat yang sama justru banyak
berantemnya, karena sama-sama egois, seperti saat mereka ribut karena suatu persoalan belum jelas siapa
yang salah, kedua tak ada yang mau mengalah, karena
keduanya punya pemikiran yang sama, siapa yang
mengalah itulah yang menjadi pemicu pertengkaran, dan
karena tidak ada yang mau mengalah, akibatnya
hubungan semakin retak dan akhirnya berpisah. Mengingat cerita temenq tadi, aku jadi ingat ama magnet,
kalau kedua kutubnya sama justru saling tolak menolak
namun jika kedua kutubnya berbeda justru saling tarik
menarik dan yang menjadi pengikatnya adalah medan
magnet. Di sinilah letak kemahakuasaan Tuhan dan keadilan
Tuhan, dimana jodoh yang dia berikan justru adalah
orang yang berbeda karakter dari kita tujuannya adalah
untuk saling melengkapi dan untuk saling mengisi
sehingga menjadi lengkap, utuh, sempurna.
Jika orang keras kepala dijodohkan dengan orang keras kepala tentu saja akan banyak sekali pertengkaran
Jika orang lemah dijodohkan dengan orang lemah, jelas
hanya akan menyebabkan kerapuhan
Jika orang pemalu dijodohkan dengan orang pemalu,
jelas keduanya hanya akan makin terisolir dari
lingkungan tempat mereka tinggal. Karena itulah Tuhan menjodohkan yang lemah dengan
kuat, yang pendiam dengan yang banyak bicara, yang
pemalu dengan yang berani, dll. Itulah keadilan dan keseimbangan.
MENIKAH
Menikah bukanlah sebuah solusi untuk mengatasi
kesendirian, karena menikah adalah sebuah awal
kehidupan bersama, dimana seorang lelaki bersatu
dengan seorang wanita dan mengikat janji untuk
sehidup, semati. Seorang lelaki dan seorang wanita jelas
memiliki banyak sekali perbedaan yang jika tidak bisa diselaraskan (bukan dihilangkan) maka bisa menjadi
kerikil-kerikil atau bahkan batu karang yang bisa
menenggelamkan bahtera rumah tangga. Karena itulah
yang namanya kematangan dan kedewasaan sebelum
menikah sangatlah penting. Jangan menikah karena umur, jangan menikah karena
terpaksa, jangan menikah karena omongan orang,
jangan menikah untuk menutupi kesepian, jangan
menikah untuk alasan-alasan yang tidak terlalu kuat.
Tetapi menikahlah karena memang telah matang dan
telah siap untuk menikah. Karena dalam sebuah rumah tangga ada banyak perasaan yang harus dijaga,
perasaan pasangan, mertua, ipar, anak, dll. Berbeda
dengan ketika masih bujang. Mengapa kedewasaan dan kematangan sangat penting
dalam pernikahan adalah karena begitu banyak
persoalan yang jauh lebih kompleks dalam sebuah
pernikahan, antara lain soal pendapatan, soal pendidikan
anak, soal tempat tinggal, dll. Belum lagi soal mental yang
harus siap mengurus keluarga (sebenarnya tidak rumit tetapi juga tidak mudah). Menyatunya dua orang yang
berbeda latar belakang, sifat dan karakter merupakan hal
yang tak kalah kompleksnya. Dan jika hal itu tidak
disikapi dengan baik, maka yang terjadi adalah ketidak
pengertian (salah paham), egoisme yang pada akhirnya
bisa berakhir pada perpisahan (alasannya tak ada kecocokan, dll). Dalam pernikahan porsi kesenangan pribadi harus bisa
dibatasi dalam hal ini kita sudah tidak bebas lagi seperti
dulu, alias kalau kita mau melakukan sesuatu kita harus
meminta pertimbangan pasangan kita, kita harus
menghargai perasaan pasangan kita, kita tidak bisa
hanya memikirkan perasaan kita saja (harus ada toleransi dan saling pengertian). Beda saat masih bujang, apa-apa
bisa kita putuskan sendiri. Karena itulah sebelum memutuskan menikah,
persiapkanlah segala sesuatu secara matang (jasmani dan
rohani). . .
fanspage di facebook
Apa yang membuat hubungan kalian awet
Apa yang membuat kalian berpisah
Dan di mata kalian pasangan kalian itu orangnya seperti
apa Jawaban atas pertanyaanku di atas adalah
Yang dicari dalam setiap diri pasangan adalah sebuah
kecocokan, keharmonisan, keserasian
Yang membuat hubungan awet adalah saling pengertian,
komunikasi yang nyambung, keterbukaan, dan toleransi
yang membuat berpisah adalah terlalu sering salah paham (komunikasi kurang baik), egoisme, tidak saling
mengerti, mau menang sendiri
Orang yang special dan bisa diajak tukar pikiran, bisa
memberikan input, bisa berbagi, dan saling mendukung. Ada lagi satu pertanyaan yang aku ajukan, apakah
pasangan kalian (khusus buat yang sudah menikah)
memiliki karakter yang sama, kepribadian yang sama,
kebiasaan yang sama, sifat yang sama, atau justru
berbeda..??? dan jawabannya, yang memiliki hubungan awet justru
mereka yang memiliki karakter yang berbeda, sifat yang
berbeda tetapi ada kesamaan yang membuat mereka
bersatu, bahkan temenku dia dan istrinya punya
sifat, kepribadian, karakter yang sangat berbeda, seperti
yang satunya malas, yang satunya rajin, yang satunya pendiam, yang satunya banyak bicara, yang satunya
rapi yang satunya berantakan, dan katanya justru
karena berbeda itulah makanya saling melengkapi,
sedangkan dengan mantannya dulu yang secara
kepribadian, karakter, sifat yang sama justru banyak
berantemnya, karena sama-sama egois, seperti saat mereka ribut karena suatu persoalan belum jelas siapa
yang salah, kedua tak ada yang mau mengalah, karena
keduanya punya pemikiran yang sama, siapa yang
mengalah itulah yang menjadi pemicu pertengkaran, dan
karena tidak ada yang mau mengalah, akibatnya
hubungan semakin retak dan akhirnya berpisah. Mengingat cerita temenq tadi, aku jadi ingat ama magnet,
kalau kedua kutubnya sama justru saling tolak menolak
namun jika kedua kutubnya berbeda justru saling tarik
menarik dan yang menjadi pengikatnya adalah medan
magnet. Di sinilah letak kemahakuasaan Tuhan dan keadilan
Tuhan, dimana jodoh yang dia berikan justru adalah
orang yang berbeda karakter dari kita tujuannya adalah
untuk saling melengkapi dan untuk saling mengisi
sehingga menjadi lengkap, utuh, sempurna.
Jika orang keras kepala dijodohkan dengan orang keras kepala tentu saja akan banyak sekali pertengkaran
Jika orang lemah dijodohkan dengan orang lemah, jelas
hanya akan menyebabkan kerapuhan
Jika orang pemalu dijodohkan dengan orang pemalu,
jelas keduanya hanya akan makin terisolir dari
lingkungan tempat mereka tinggal. Karena itulah Tuhan menjodohkan yang lemah dengan
kuat, yang pendiam dengan yang banyak bicara, yang
pemalu dengan yang berani, dll. Itulah keadilan dan keseimbangan.
MENIKAH
Menikah bukanlah sebuah solusi untuk mengatasi
kesendirian, karena menikah adalah sebuah awal
kehidupan bersama, dimana seorang lelaki bersatu
dengan seorang wanita dan mengikat janji untuk
sehidup, semati. Seorang lelaki dan seorang wanita jelas
memiliki banyak sekali perbedaan yang jika tidak bisa diselaraskan (bukan dihilangkan) maka bisa menjadi
kerikil-kerikil atau bahkan batu karang yang bisa
menenggelamkan bahtera rumah tangga. Karena itulah
yang namanya kematangan dan kedewasaan sebelum
menikah sangatlah penting. Jangan menikah karena umur, jangan menikah karena
terpaksa, jangan menikah karena omongan orang,
jangan menikah untuk menutupi kesepian, jangan
menikah untuk alasan-alasan yang tidak terlalu kuat.
Tetapi menikahlah karena memang telah matang dan
telah siap untuk menikah. Karena dalam sebuah rumah tangga ada banyak perasaan yang harus dijaga,
perasaan pasangan, mertua, ipar, anak, dll. Berbeda
dengan ketika masih bujang. Mengapa kedewasaan dan kematangan sangat penting
dalam pernikahan adalah karena begitu banyak
persoalan yang jauh lebih kompleks dalam sebuah
pernikahan, antara lain soal pendapatan, soal pendidikan
anak, soal tempat tinggal, dll. Belum lagi soal mental yang
harus siap mengurus keluarga (sebenarnya tidak rumit tetapi juga tidak mudah). Menyatunya dua orang yang
berbeda latar belakang, sifat dan karakter merupakan hal
yang tak kalah kompleksnya. Dan jika hal itu tidak
disikapi dengan baik, maka yang terjadi adalah ketidak
pengertian (salah paham), egoisme yang pada akhirnya
bisa berakhir pada perpisahan (alasannya tak ada kecocokan, dll). Dalam pernikahan porsi kesenangan pribadi harus bisa
dibatasi dalam hal ini kita sudah tidak bebas lagi seperti
dulu, alias kalau kita mau melakukan sesuatu kita harus
meminta pertimbangan pasangan kita, kita harus
menghargai perasaan pasangan kita, kita tidak bisa
hanya memikirkan perasaan kita saja (harus ada toleransi dan saling pengertian). Beda saat masih bujang, apa-apa
bisa kita putuskan sendiri. Karena itulah sebelum memutuskan menikah,
persiapkanlah segala sesuatu secara matang (jasmani dan
rohani). . .
fanspage di facebook
Sabtu, 24 Desember 2011
Haruskah Aku bercerai?
Ketika aku tiba di rumah, istriku sedang menyiapkan makan malam. Aku pegang tangannya dan berkata, “Aku ingin cerai.” Dia bertanya dengan lembut, “Mengapa?” Aku tidak menjawab . Inilah yang membuat istriku marah. Aku tidak bisa menyampaikan apa yang sesungguhnya terjadi. Aku sudah jatuh cinta pada wanita lain. Aku sudah tidak mencintai istriku lagi! Hari itu, dia membuat usulan surat cerai dengan beberapa persyaratan. Dia tidak minta harta apapun, dia hanya membutuhkan waktu satu bulan sebelum bercerai. Dalam satu bulan itu kami harus mencoba hidup senormal mungkin. Dia memintaku untuk coba mengingat bagaimana rasanya aku menggendong dia di hari pernikahan kami. Dan dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan penuh, keluar dari ranjang sampai ke pintu depan - setiap pagi sebelum berangkat kerja. Kupikir ini rada tidak normal, namun karena ingin agar perpisahan ini segera beres, aku menyetujui persyaratan aneh ini. Sejak perbincangan mengenai perpisahan itu, aku dan istriku sudah tidak pernah bersentuhan sama sekali. Jadi ketika aku menggendongnya di hari pertama, kami berdua jadi kikuk. Anakku bertepuk tangan gembira di belakang, “Papa mesra sekali dengan mama,” kata anakku. Di hari ke empat aku menggendongnya, aku mulai merasakan ada kedekatan itu kembali. Wanita inilah yang sudah memberikan diri dan hidupnya kepadaku selama sepuluh tahun. Pada hari ke lima dan ke enam rasa kedekatan itu semakin kuat. Tidak terasa sudah hampir sebulan aku menggendong dia, rasanya tidak lagi berat dan tidak membuatku marah lagi. Di hari terakhir dari sebulan yang sudah disepakati, ketika aku menggendongnya, aku hampir tidak bisa melangkah. Aku perhatikan kehidupan pernikahan kami kekurangan keakraban. Aku segera berangkat kekantor dan mampir menemui wanita calon istriku yang baru dan berkata kepadanya, “Aku minta naaf, aku tidak mau menceraikan istriku. Kehidupan pernikahan kami memang pernah membosankan. Ini mungkin karena kami berdua kurang menghargai hal-hal yang penting didalamnya. Jadi bukan karena kami sudah tidak saling mencintai. Sekarang aku sadar, sewaktu aku menggendong istriku di hari pernikahan, aku punya komitmen untuk menggendongnya sampai maut memisahkan kami berdua.” Setelah itu aku segera pulang dan mampir di toko bunga. Sambil tersenyum, aku menulis, “Aku akan tetap menggendongmu setiap pagi sampai maut memisahkan kita. I love you.” Asal kita tidak menyerah, kasih Allah yang mempersatukan pernikahan tidak akan pernah gagal. Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya. Dewi berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis." Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis." Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor" Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku. Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari ia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,"Ada sesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut,"kenapa?" "Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki-laki!". Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi. Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?" Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis. Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali" Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana." Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang" Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat,"Semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa,sudah waktunya membopong mama keluar" Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, "Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampaikita tua". Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra". Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. "Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu" Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua. .
Oleh : fanspage HALALKAN AKU AYAH
Oleh : fanspage HALALKAN AKU AYAH
Panduan MEMILIH PASANGAN HIDUP
Akibat salah dalam memilih pasangan hidup, banyak pasangan suami istri yang menghadapi kesulitan dan hidupnya malah tidak bahagia, bahkan perceraian dan gonta ganti pasangan menjadi sesuatu yang sudah biasa dilakukan.
Dewasa ini, begitu banyak kasus pertikaian di dalam sebuah keluarga, dari sekedar konflik yang berbentuk pertengkaran mulut sampai dengan penganiayaan fisik bahkan pembunuhan, yang disebabkan oleh kesalahan langkah awal dalam membentuk rumah tangga.
Iklim pergaulan di masyarakat kita yang memang cenderung permisif dan belum Islami, merupakan penyebab utama yang melahirkan pernikahan sebatas dorongan nafsu semata. Tolak ukur pencarian pasangan hidup jarang yang berorientasi pada nilai-nilai agama. Melainkan seringkali hanya sebatas keindahan fisik, melimpahnya materi dan mulianya status di masyarakat, atau bahkan hanya karena sudah terlanjur cinta yang telah menyebabkan mata hati menjadi buta terhadap kebaikan dan keburukan orang yang dicinta.
Apabila pernikahan terjadi hanya lantaran dorongan 'nafsu' semacam itu, maka wajarlah jika banyak pasangan yang bertikai merasa kesulitan menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka secara Islami, lantaran proses pernikahan mereka terjadi begitu saja secara naluriah, tanpa ada landasan nilai-nilai ke-Islaman yang mengawali. Lalu bagaimana mungkin akan kembali kepada Qur’an dan Sunnah, sedangkan mereka dahulunya tidak berangkat dari keduanya? Maka memilih pasangan hidup atas dasar nilai-nilai Islam adalah sikap yang penting, dan berhati-hati dalam memilih pasangan hidup menjadi suatu keharusan bagi kita, camkanlah nasehat Luqman Al Hakim berikut ini:
“Wahai anakku, takutlah terhadap wanita jahat karena dia membuat engkau beruban sebelum masanya. Dan takutlah wanita yang tidak baik karena mereka mengajak kamu kepada yang tidak baik, dan hendaklah kamu berhati-hati mencari yang baik dari mereka.”
Begitu pula untuk Wanita berhati-hatilah dalam mencari pasangan siapa yang harus kita pilih? Islam telah mengajarkan dengan cermat atas dasar apa kita harus memilih pasangan hidup kita:
“Dinikahi wanita atas dasar empat perkara: karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan k arena agamanya. Barangsiapa yang memilih agamanya, maka beruntunglah ia.” (HR. al Bukhari dan Muslim)
Maka jelaslah bagi kita bahwa ada empat dasar dalam menentukan siapa yang layak untuk kita pilih menjadi pasangan hidup kita, yakni kekayaan, keelokan, keturunan serta akhlak dan agama. Dan di antara semuanya, maka akhlak dan agama menjadi jaminan kedamaian dan kebahagiaan, sebaliknya pengabaian bahkan pengingkaran terhadap masalah ini akan menyebabkan fitnah dan kerusakan yang besar bagi para pelakunya. Alangkah indahnya memang bila kesemuanya terkumpul pada diri seseorang hamba Allah.
Pilih yang Taqwa, baru yang lain
Yang pertama adalah perihal kekayaan
Hal ini memang utama, bahkan Rasullah saw adalah seorang dermawan yang paling banyak sedekahnya, tetapi pernikahan bukanlah sekedar transaksi perdagangan semata, bahkan Allah mengancam mereka yang menikah semata-mata karena mengharapkan kekayaan dengan kefakiran:
”Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, Allah tidak akan menambahkannya kecuali kefakiran..” (HR. Ibnu Hibban).
Yang kedua adalah keelokan
Hal ini juga memang boleh-boleh saja dan menyukai keelokan memang fitrah manusia, bahkan Allah sendiri indah dan menyukai keindahan, tetapi pernikahan pun bukan sekedar kesenangan mata belaka. Sesungguhnya keelokan merupakan karunia Allah kepada hamba-Nya, yang kelak pasti akan diambil-Nya secara perlahan dengan bertambahnya usia sang hamba. Karena memang tidak ada keelokan yang berkekalan di dunia yang fana ini.
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, sebab kecantikan itu akan lenyap dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya, sebab harta itu akan membuat dia sombong. Akan tetapi nikahilah mereka karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama.” (HR. Ibnu Majah).
Dan ketiga adalah keturunan,
Demikian pula hal ini juga sesuatu yang utama, tetapi pernikahan pun bukan sekedar kebanggaan silsilah yang justru bias membawa kepada penyakit ‘ashobiyah’. Bahkan Allah mengancam mereka yang menikahi seseorang hanya untuk mengejar keturunan, dengan memberikan kerendahan bukan kemuliaan.
“Barangsiapa yang menikahi wanita karena keturunannya, Allah tidak akan menambahkan kecuali kerendahan…” (HR. Ibnu Hibban)
Terakhir yang keempat adalah akhlak dan agama,
Inilah faktor yang paling utama, yang tidak boleh tidak, harus ada pada calon pasangan hidup kita. Semakin baik akhlak dan agama seseorang, maka seakan-akan semakin jelaslah kebahagiaan sebuah rumah tangga telah terbentang dihadapan kita. Akhlak dan agama disini bukanlah sebatas ilmu dan retorika atau banyaknya hapalan di kepala, melainkan mencakup ucapan dan perbuatan sebagai cerminan dari hati seseorang yang telah melekat dalam kepribadiannya, dan inilah TAQWA yang sebenarnya!.
Betapa beruntungnya menikah dengan hamba yang bertaqwa, karena ia pandai menghormati pasangan hidupnya dan sangat berhati-hati dari menzhaliminya, sebagaimana jawaban Hasan bin Ali ketika ada seseorang yang bertanya. “Aku mempunyai anak gadis, menurutmu kepada siapa aku harus menikahkannya?” Maka Hasan menjawab.” Nikahkanlah ia dengan lelaki yang bertaqwa kepada Allah. Jika lelaki itu mencintainya, maka ia akan menghormatinya, dan jika marah maka ia tidak akan menzhaliminya.
Dan sebaliknya penolakan terhadap lelaki atau wanita yang bertaqwa, bagaikan menolak kebaikan dan menggantinya dengan kerusakan. Simaklah kedua hadits berikut ini:
“Jika datang seorang laki-laki kepadamu (untuk melamar), sedang kau tahu ia baik akhlak dan agamanya lalu kau tolak, maka jadilah fitnah buatmu dan kerusakan yang besar,” (HR. Ibnu Majah)
“Apabila telah datang kepadamu seorang wanita yang agama dan akhlaknya baik maka nikahilah dia. Jika engkau menikahi wanita bukan atas dasar agama dan akhlak, maka wanita itu akan menjadi fitnah dan menimbulkan kerusakan luas.” (HR. At Tirmidzi).
Akhirnya pernikahan yang ideal sesungguhnya merupakan keseimbangan dari semua faktor tersebut, dengan akhlak dan agama sebagai parameter yang paling penting, karena itu dalam memilih pasangan hidup, jangan sampai niatan kita hanya sekedar mencari kecantikan atau keturunan atau harta saja dengan meninggalkan kriteria taqwa, sehingga tidak ada keberkahan yang akan kita dapatkan dalam rumah tangga kita kelak.
“Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, Allah tidak akan menambahkannya kecuali kafakiran. Barangsiapa yang mengawini wanita karena untuk memejamkan pandangannya, menjaga kemaluannya serta menjalin tali persaudaraan, niscaya Allah memberkahinya.” (HR. Ibnu Hibban).By.M.I
Dewasa ini, begitu banyak kasus pertikaian di dalam sebuah keluarga, dari sekedar konflik yang berbentuk pertengkaran mulut sampai dengan penganiayaan fisik bahkan pembunuhan, yang disebabkan oleh kesalahan langkah awal dalam membentuk rumah tangga.
Iklim pergaulan di masyarakat kita yang memang cenderung permisif dan belum Islami, merupakan penyebab utama yang melahirkan pernikahan sebatas dorongan nafsu semata. Tolak ukur pencarian pasangan hidup jarang yang berorientasi pada nilai-nilai agama. Melainkan seringkali hanya sebatas keindahan fisik, melimpahnya materi dan mulianya status di masyarakat, atau bahkan hanya karena sudah terlanjur cinta yang telah menyebabkan mata hati menjadi buta terhadap kebaikan dan keburukan orang yang dicinta.
Apabila pernikahan terjadi hanya lantaran dorongan 'nafsu' semacam itu, maka wajarlah jika banyak pasangan yang bertikai merasa kesulitan menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka secara Islami, lantaran proses pernikahan mereka terjadi begitu saja secara naluriah, tanpa ada landasan nilai-nilai ke-Islaman yang mengawali. Lalu bagaimana mungkin akan kembali kepada Qur’an dan Sunnah, sedangkan mereka dahulunya tidak berangkat dari keduanya? Maka memilih pasangan hidup atas dasar nilai-nilai Islam adalah sikap yang penting, dan berhati-hati dalam memilih pasangan hidup menjadi suatu keharusan bagi kita, camkanlah nasehat Luqman Al Hakim berikut ini:
“Wahai anakku, takutlah terhadap wanita jahat karena dia membuat engkau beruban sebelum masanya. Dan takutlah wanita yang tidak baik karena mereka mengajak kamu kepada yang tidak baik, dan hendaklah kamu berhati-hati mencari yang baik dari mereka.”
Begitu pula untuk Wanita berhati-hatilah dalam mencari pasangan siapa yang harus kita pilih? Islam telah mengajarkan dengan cermat atas dasar apa kita harus memilih pasangan hidup kita:
“Dinikahi wanita atas dasar empat perkara: karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan k arena agamanya. Barangsiapa yang memilih agamanya, maka beruntunglah ia.” (HR. al Bukhari dan Muslim)
Maka jelaslah bagi kita bahwa ada empat dasar dalam menentukan siapa yang layak untuk kita pilih menjadi pasangan hidup kita, yakni kekayaan, keelokan, keturunan serta akhlak dan agama. Dan di antara semuanya, maka akhlak dan agama menjadi jaminan kedamaian dan kebahagiaan, sebaliknya pengabaian bahkan pengingkaran terhadap masalah ini akan menyebabkan fitnah dan kerusakan yang besar bagi para pelakunya. Alangkah indahnya memang bila kesemuanya terkumpul pada diri seseorang hamba Allah.
Pilih yang Taqwa, baru yang lain
Yang pertama adalah perihal kekayaan
Hal ini memang utama, bahkan Rasullah saw adalah seorang dermawan yang paling banyak sedekahnya, tetapi pernikahan bukanlah sekedar transaksi perdagangan semata, bahkan Allah mengancam mereka yang menikah semata-mata karena mengharapkan kekayaan dengan kefakiran:
”Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, Allah tidak akan menambahkannya kecuali kefakiran..” (HR. Ibnu Hibban).
Yang kedua adalah keelokan
Hal ini juga memang boleh-boleh saja dan menyukai keelokan memang fitrah manusia, bahkan Allah sendiri indah dan menyukai keindahan, tetapi pernikahan pun bukan sekedar kesenangan mata belaka. Sesungguhnya keelokan merupakan karunia Allah kepada hamba-Nya, yang kelak pasti akan diambil-Nya secara perlahan dengan bertambahnya usia sang hamba. Karena memang tidak ada keelokan yang berkekalan di dunia yang fana ini.
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, sebab kecantikan itu akan lenyap dan janganlah kamu menikahi mereka karena hartanya, sebab harta itu akan membuat dia sombong. Akan tetapi nikahilah mereka karena agamanya, sebab seorang budak wanita yang hitam dan beragama itu lebih utama.” (HR. Ibnu Majah).
Dan ketiga adalah keturunan,
Demikian pula hal ini juga sesuatu yang utama, tetapi pernikahan pun bukan sekedar kebanggaan silsilah yang justru bias membawa kepada penyakit ‘ashobiyah’. Bahkan Allah mengancam mereka yang menikahi seseorang hanya untuk mengejar keturunan, dengan memberikan kerendahan bukan kemuliaan.
“Barangsiapa yang menikahi wanita karena keturunannya, Allah tidak akan menambahkan kecuali kerendahan…” (HR. Ibnu Hibban)
Terakhir yang keempat adalah akhlak dan agama,
Inilah faktor yang paling utama, yang tidak boleh tidak, harus ada pada calon pasangan hidup kita. Semakin baik akhlak dan agama seseorang, maka seakan-akan semakin jelaslah kebahagiaan sebuah rumah tangga telah terbentang dihadapan kita. Akhlak dan agama disini bukanlah sebatas ilmu dan retorika atau banyaknya hapalan di kepala, melainkan mencakup ucapan dan perbuatan sebagai cerminan dari hati seseorang yang telah melekat dalam kepribadiannya, dan inilah TAQWA yang sebenarnya!.
Betapa beruntungnya menikah dengan hamba yang bertaqwa, karena ia pandai menghormati pasangan hidupnya dan sangat berhati-hati dari menzhaliminya, sebagaimana jawaban Hasan bin Ali ketika ada seseorang yang bertanya. “Aku mempunyai anak gadis, menurutmu kepada siapa aku harus menikahkannya?” Maka Hasan menjawab.” Nikahkanlah ia dengan lelaki yang bertaqwa kepada Allah. Jika lelaki itu mencintainya, maka ia akan menghormatinya, dan jika marah maka ia tidak akan menzhaliminya.
Dan sebaliknya penolakan terhadap lelaki atau wanita yang bertaqwa, bagaikan menolak kebaikan dan menggantinya dengan kerusakan. Simaklah kedua hadits berikut ini:
“Jika datang seorang laki-laki kepadamu (untuk melamar), sedang kau tahu ia baik akhlak dan agamanya lalu kau tolak, maka jadilah fitnah buatmu dan kerusakan yang besar,” (HR. Ibnu Majah)
“Apabila telah datang kepadamu seorang wanita yang agama dan akhlaknya baik maka nikahilah dia. Jika engkau menikahi wanita bukan atas dasar agama dan akhlak, maka wanita itu akan menjadi fitnah dan menimbulkan kerusakan luas.” (HR. At Tirmidzi).
Akhirnya pernikahan yang ideal sesungguhnya merupakan keseimbangan dari semua faktor tersebut, dengan akhlak dan agama sebagai parameter yang paling penting, karena itu dalam memilih pasangan hidup, jangan sampai niatan kita hanya sekedar mencari kecantikan atau keturunan atau harta saja dengan meninggalkan kriteria taqwa, sehingga tidak ada keberkahan yang akan kita dapatkan dalam rumah tangga kita kelak.
“Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, Allah tidak akan menambahkannya kecuali kafakiran. Barangsiapa yang mengawini wanita karena untuk memejamkan pandangannya, menjaga kemaluannya serta menjalin tali persaudaraan, niscaya Allah memberkahinya.” (HR. Ibnu Hibban).By.M.I
Menerima Apa Adanya
"Cowokmu itu kan tukang mabok ,kok kamu mau sih sama dia?
Aku mencintainya , aku mau menerima dia apa adanya"
"Cowokmu kan punya masa lalu kelam, dan sampai sekarnag tidak ada tanda-tanda perubahan yang berarti darinya, kok kamu mau aja sih?
Biarin, yang penting aku cinta.. aku bakal nerima diia apa adanya.
Bla..Bla.. Bla... segala bentuk kejelekan-kejelekan lain yang jika kita memakai otak orang waras pasti tidak akan meliriknya apalagi memilihnya, lHo kok? Iya.. orang kalo gak lagi kasmaran kan otaknya waras karena mampu berfikir logis, lain halnya dengan orang yang lagi kasamaran, karena hatinya udah di penuhi virus cinta otaknya jadi gak berfungsi normal, karena otaknya berada di bawah aba-aba cinta, cinta nyuruh apaan juga dia nurut aja, cinta melakukan kesalahan juga di anggap bener aja, bener kan??? Hayoo yang udah pernah kejangkit virus itu pasti ngerasa ^_^ uPSsss,, Cinta apa nafsu nieh??
Orang yang otaknya waras alias tidak sedang jatuh cinta pasti bisa berfikir logis, orang yang punya tabiat jelek tentu saja tidak pantas untuk dipilih, itu baru dari segi penilaian masyarakat, apa lagi kalo udah di nilai pake pertimbangan Islam, pasti lebih jauh lagi pembahasannya.
Begini ya kawan, memang benar katanya jodoh itu telah Allah tulis di Lauh Mahfuz, Namun kita sebagai manusia tetap wajib berusaha melakukan yang terbaik dan memilih yang terbaik bukan?? soal hasil mah terserah Allah saja yang penting kita gak pasrah pada keadaan. Inget lho.. Usaha kita itu pasti bakal di itung sama Allah, kalo usahanya baik pasti di balas kebaikan, sedangkan jika usahanya malah lewat jalan kemaksiatan, udah pasti bakal di balas adzab yang pedih, Na'udzubillah.
Nah.. Ingat Nasihat Rasulullah yang menyuruh kita memilih pendamping yang baik agamanya agar kita BERUNTUNG. Nah.. Kalo kita mau beruntung katanya ukhty, Jadi kalo kia milih pendamping yang di luar dari pesan Rasulullah itu kemungkinan besar kita bakal menjadi manusia yang merugi,mau?? "Mau aja wong saya cinta ,saya mau menerima dia apa adanya". Hadeuuuh... Nie anak susah bener di ingetinnya ^_^
Iya deh.. Kalo CiNTA sudah melekat Maksiat memang terasa coklat, Penasihat di anggap tukang menghujat.
Kalo sekarang hatimu telah memutuskan untuk menerima lelaki pilihanmu apa adanya, kamu juga harus mempersiapkan hatimu untuk hal terburuk ketika kamu telah menikahinya. Bukan hanya sampai disitu.. Kamu juga harus siap mempertanggung jawabkan semuanya di hadapan Allah Ta'ala kelak, dari mulai proses kamu mengenalnya, mendekatinya, menjalin asmara dengannya, dan akhirnya menjatuhkan pilihan kepadanya.
Jika setelah menikah dia melukai dan mengecewakanmu dengan semua sifat jeleknya yang dulu kamu terima apa adanya ketika memutuskan menerima dia sebagai kepala keluarga, kamu tidak pantas untuk mengeluh, tidak pantas untuk menangis, bahkan TIDAK PANTAS menyalahkan Allah..
Allah sudah memperingatkan Jika kau ingin medapatkan yang baik maka jadilah yang baik. karena yang baik hanya untuk yang baik.
Rasulullah pun telah berpesan, jika kamu ingin beruntung pilihlah yang baik agamanya. Tapi kamu tetap kekeuh dengan pilihanmu, ya silahkan.. Itu pilihan kamu sendiri.
Katakanlah : "Wahai manusia sesungguhnya telah datang kebenaran Al-Qur'an dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (Allah) memberi petunjuk untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tersesat, maka sesungguhnya ia hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan Aku bukan penjaga atas dirimu". (QS.10:18).
Hidup itu Pilihan, Pilihlah yang Terbaik.
Created by : Ameera 'Afya' Nurjannah
Aku mencintainya , aku mau menerima dia apa adanya"
"Cowokmu kan punya masa lalu kelam, dan sampai sekarnag tidak ada tanda-tanda perubahan yang berarti darinya, kok kamu mau aja sih?
Biarin, yang penting aku cinta.. aku bakal nerima diia apa adanya.
Bla..Bla.. Bla... segala bentuk kejelekan-kejelekan lain yang jika kita memakai otak orang waras pasti tidak akan meliriknya apalagi memilihnya, lHo kok? Iya.. orang kalo gak lagi kasmaran kan otaknya waras karena mampu berfikir logis, lain halnya dengan orang yang lagi kasamaran, karena hatinya udah di penuhi virus cinta otaknya jadi gak berfungsi normal, karena otaknya berada di bawah aba-aba cinta, cinta nyuruh apaan juga dia nurut aja, cinta melakukan kesalahan juga di anggap bener aja, bener kan??? Hayoo yang udah pernah kejangkit virus itu pasti ngerasa ^_^ uPSsss,, Cinta apa nafsu nieh??
Orang yang otaknya waras alias tidak sedang jatuh cinta pasti bisa berfikir logis, orang yang punya tabiat jelek tentu saja tidak pantas untuk dipilih, itu baru dari segi penilaian masyarakat, apa lagi kalo udah di nilai pake pertimbangan Islam, pasti lebih jauh lagi pembahasannya.
Begini ya kawan, memang benar katanya jodoh itu telah Allah tulis di Lauh Mahfuz, Namun kita sebagai manusia tetap wajib berusaha melakukan yang terbaik dan memilih yang terbaik bukan?? soal hasil mah terserah Allah saja yang penting kita gak pasrah pada keadaan. Inget lho.. Usaha kita itu pasti bakal di itung sama Allah, kalo usahanya baik pasti di balas kebaikan, sedangkan jika usahanya malah lewat jalan kemaksiatan, udah pasti bakal di balas adzab yang pedih, Na'udzubillah.
Nah.. Ingat Nasihat Rasulullah yang menyuruh kita memilih pendamping yang baik agamanya agar kita BERUNTUNG. Nah.. Kalo kita mau beruntung katanya ukhty, Jadi kalo kia milih pendamping yang di luar dari pesan Rasulullah itu kemungkinan besar kita bakal menjadi manusia yang merugi,mau?? "Mau aja wong saya cinta ,saya mau menerima dia apa adanya". Hadeuuuh... Nie anak susah bener di ingetinnya ^_^
Iya deh.. Kalo CiNTA sudah melekat Maksiat memang terasa coklat, Penasihat di anggap tukang menghujat.
Kalo sekarang hatimu telah memutuskan untuk menerima lelaki pilihanmu apa adanya, kamu juga harus mempersiapkan hatimu untuk hal terburuk ketika kamu telah menikahinya. Bukan hanya sampai disitu.. Kamu juga harus siap mempertanggung jawabkan semuanya di hadapan Allah Ta'ala kelak, dari mulai proses kamu mengenalnya, mendekatinya, menjalin asmara dengannya, dan akhirnya menjatuhkan pilihan kepadanya.
Jika setelah menikah dia melukai dan mengecewakanmu dengan semua sifat jeleknya yang dulu kamu terima apa adanya ketika memutuskan menerima dia sebagai kepala keluarga, kamu tidak pantas untuk mengeluh, tidak pantas untuk menangis, bahkan TIDAK PANTAS menyalahkan Allah..
Allah sudah memperingatkan Jika kau ingin medapatkan yang baik maka jadilah yang baik. karena yang baik hanya untuk yang baik.
Rasulullah pun telah berpesan, jika kamu ingin beruntung pilihlah yang baik agamanya. Tapi kamu tetap kekeuh dengan pilihanmu, ya silahkan.. Itu pilihan kamu sendiri.
Katakanlah : "Wahai manusia sesungguhnya telah datang kebenaran Al-Qur'an dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (Allah) memberi petunjuk untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tersesat, maka sesungguhnya ia hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan Aku bukan penjaga atas dirimu". (QS.10:18).
Hidup itu Pilihan, Pilihlah yang Terbaik.
Created by : Ameera 'Afya' Nurjannah
JODOH Antara TAKDIR dan PILIHAN
Pernahkah kita bertanya jodoh itu takdir yang sudah di gariskan ??? atau Pilihan??
Jika jodoh itu takdir, kenapa Rasulullah menyuruh kita memilih? Namun jika jodoh itu pilihan, kenapa kita tidak dapat bersatu dengan orang yang kita pilih jika takdir tidak menggariskan??
Serumit itukah masalah jodoh jika terus di pertanyakan??
Katanya jodoh adalah seseorang yang sudah tertulis namanya di Lauh Mahfuz jauh sebelum kita di ciptakan yang akan di takdirkan menjadi pendamping hidup kita.
Tapi ada juga yang bilang bahwa jodoh itu bisa berubah seiring perubahan yang terjadi pada akhlak kita.
Seperti halnya rizki yang sudah di tuliskan di Lauh Mahfuz sana, jodoh juga harus di usahakan dengan ikhtiar dan do'a ,di cari dengan jalan halal. Karena seperti halnya rizki yang harus kita cari dengan pekerjaan halal agar rizki yang kita dapat itu membawa keberkahan untuk hidup kita, begitu pula jodoh.. Jika ingin beruntung dan bahagia.
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).
Begitupun kita sebagai wanita, ketika kita hendak menerima atau memilih calon suami. Kita pun harus melihat agamanya ( ketaqwaannya) , agar dia bisa membimbing kita dan menjadi imam yang baik . Lalu bagaimana dengan mereka yang bercerai? Katanya itu berarti jodoh mereka telah habis.
Dari sini aku mulai berfikir, otakku berputar mencari jawaban. Karena semakin kita mempertanyakan rahasia Allah. Hanya kan membuat kita semakin bingung.
Kesimpulan itu adalah:
Kita tetap di wajibkan "MEMILIH" karena Rasulullah menyuruh kita memilih kalau kita mau bahagia dan beruntung. dengan kriteria utama yang baik agamanya tentunya. Masalah dia berjodoh atau tidak dengan kita biarkan takdir yang memainkan peranannya. Tugas kita hanya berdo'a memohon yang terbaik dan berusaha melakukan yang baik sesuai pesan Rasulullah.
Rasulullah telah memberi petunjuk dan nasihat memilih pasangan hidup kepada kita. Jika setelah tahu kita tetap memilih yang berlawanan karena mengedepankan nafsu dan ego saja. Itu berarti kita telah memilih sendiri jalan hidup kita yang berlawanan dengan apa yang sudah Rasulullah anjurkan. Jadi jangan salahkan takdir, jangan salahkan Allah jika kamu terjebak ke dalam jalan kerugian. Karena kamu sendiri yang memilih.
Bukankah Allah sudah memperingatkan.. Rasulullah pun sudah berpesan. Kita sendiri yang menentukan pilihan, walaupun hasil akhirnya tetap ada di tangan Tuhan, apakah mempersatukan dengan orang pilihan kita meskipun kita salah jalan , atau justru menggagalkan.
Jika Allah menyatukan jangan berbangga dan merasa benar dulu, belum tentu Allah meridhai pilihan kita tadi bukan? Karena Allah hanya akan meridhai yang baik-baik saja. Tapi karena kasih-Nya, Dia mengabulkan apa yang kita usahakan, Dia mengizinkan semua itu terjadi, namun aku yakin di balik kehendak-Nya tadi, Allah pasti berkata..
"Inikah maumu? Inikah yang membuatmu bahagia? Inikah yang kau pilih? maka Aku izinkan semua maumu ini terjadi.. Namun kau juga harus mempertanggung jawabkan semua ini di akhirat nanti"
Di dunia Allah masih menyayangi semua hamba-Nya. baik itu yang bertaqwa maupun yang durhaka... Semua mempunyai hak yang sama. Tapi di akhirat? Jangan harap... Allah hanya kan mencintai hamba-Nya yang bertaqwa di dunia bukan yang selalu mendurhakai-Nya.
Jangan selalu menyalahkan takdir ,apalagi menyalahkan Allah. Karena pada dasarnya kita punya bagian besar dalam menentukan jalan hidup kita. Bukankah kita sendiri yang memilih menjadi orang baik atau menjadi orang jahat? menjadi orang Jujur atau pendusta? menjadi oarng bertaqwa atau durhaka?
Jadi sekarang mau pilih mana?
Pilihan Rasulullah? atau Pilihan nafsu kita?
Beruntung atau merugi?
Ta'aruf atau pacaran?
Menyerah pada nasib atau berusaha memperbaiki nasib?
Menyerah pada cinta atau menyerahkan cinta ada-Nya?
Jangan selalu menjadi manusia yang pandai menyalahkan orang lain atas hal buruk yang terjadi dalam hidup kita , apalagi sampai menyalahkan Allah. Kita semua di anugerahi akal untuk berfikir, untuk menimbang apa saja kemashlahatan dan kemudharatan yang akan kita tanggung ketika kita hendak memilih atau melangakah.
So.. Awali dengan cara Islam, jalani dengan aturan Islam .. Semoga kita mendapat akhir yang tentram. So.. Jodoh RAHASIA ALLAH. Kita sebagai hamba hanya bisa mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya agar bisa mencapai puncak keberuntungan. Ikhtiar dan do'a janganlah lupa .. dan tetap menjadikan pesan Rasulullah sebagai kriteria utama memilih dan menerima calon pendamping kita. Karena kehidupan tidak akan berakhir hanya di dunia. Ada kehidupan setelah ini yang lebih abadi, dan apa yang kita kerjakan di dunia inilah iyang menjdi penentu kebahagiaan kita di akhirat kelak.
Wallahu'alam Bi Shawab.
Written by : Ameera 'Afya' Nurjannah.
Jika jodoh itu takdir, kenapa Rasulullah menyuruh kita memilih? Namun jika jodoh itu pilihan, kenapa kita tidak dapat bersatu dengan orang yang kita pilih jika takdir tidak menggariskan??
Serumit itukah masalah jodoh jika terus di pertanyakan??
Katanya jodoh adalah seseorang yang sudah tertulis namanya di Lauh Mahfuz jauh sebelum kita di ciptakan yang akan di takdirkan menjadi pendamping hidup kita.
Tapi ada juga yang bilang bahwa jodoh itu bisa berubah seiring perubahan yang terjadi pada akhlak kita.
Seperti halnya rizki yang sudah di tuliskan di Lauh Mahfuz sana, jodoh juga harus di usahakan dengan ikhtiar dan do'a ,di cari dengan jalan halal. Karena seperti halnya rizki yang harus kita cari dengan pekerjaan halal agar rizki yang kita dapat itu membawa keberkahan untuk hidup kita, begitu pula jodoh.. Jika ingin beruntung dan bahagia.
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).
Begitupun kita sebagai wanita, ketika kita hendak menerima atau memilih calon suami. Kita pun harus melihat agamanya ( ketaqwaannya) , agar dia bisa membimbing kita dan menjadi imam yang baik . Lalu bagaimana dengan mereka yang bercerai? Katanya itu berarti jodoh mereka telah habis.
Dari sini aku mulai berfikir, otakku berputar mencari jawaban. Karena semakin kita mempertanyakan rahasia Allah. Hanya kan membuat kita semakin bingung.
Kesimpulan itu adalah:
Kita tetap di wajibkan "MEMILIH" karena Rasulullah menyuruh kita memilih kalau kita mau bahagia dan beruntung. dengan kriteria utama yang baik agamanya tentunya. Masalah dia berjodoh atau tidak dengan kita biarkan takdir yang memainkan peranannya. Tugas kita hanya berdo'a memohon yang terbaik dan berusaha melakukan yang baik sesuai pesan Rasulullah.
Rasulullah telah memberi petunjuk dan nasihat memilih pasangan hidup kepada kita. Jika setelah tahu kita tetap memilih yang berlawanan karena mengedepankan nafsu dan ego saja. Itu berarti kita telah memilih sendiri jalan hidup kita yang berlawanan dengan apa yang sudah Rasulullah anjurkan. Jadi jangan salahkan takdir, jangan salahkan Allah jika kamu terjebak ke dalam jalan kerugian. Karena kamu sendiri yang memilih.
Bukankah Allah sudah memperingatkan.. Rasulullah pun sudah berpesan. Kita sendiri yang menentukan pilihan, walaupun hasil akhirnya tetap ada di tangan Tuhan, apakah mempersatukan dengan orang pilihan kita meskipun kita salah jalan , atau justru menggagalkan.
Jika Allah menyatukan jangan berbangga dan merasa benar dulu, belum tentu Allah meridhai pilihan kita tadi bukan? Karena Allah hanya akan meridhai yang baik-baik saja. Tapi karena kasih-Nya, Dia mengabulkan apa yang kita usahakan, Dia mengizinkan semua itu terjadi, namun aku yakin di balik kehendak-Nya tadi, Allah pasti berkata..
"Inikah maumu? Inikah yang membuatmu bahagia? Inikah yang kau pilih? maka Aku izinkan semua maumu ini terjadi.. Namun kau juga harus mempertanggung jawabkan semua ini di akhirat nanti"
Di dunia Allah masih menyayangi semua hamba-Nya. baik itu yang bertaqwa maupun yang durhaka... Semua mempunyai hak yang sama. Tapi di akhirat? Jangan harap... Allah hanya kan mencintai hamba-Nya yang bertaqwa di dunia bukan yang selalu mendurhakai-Nya.
Jangan selalu menyalahkan takdir ,apalagi menyalahkan Allah. Karena pada dasarnya kita punya bagian besar dalam menentukan jalan hidup kita. Bukankah kita sendiri yang memilih menjadi orang baik atau menjadi orang jahat? menjadi orang Jujur atau pendusta? menjadi oarng bertaqwa atau durhaka?
Jadi sekarang mau pilih mana?
Pilihan Rasulullah? atau Pilihan nafsu kita?
Beruntung atau merugi?
Ta'aruf atau pacaran?
Menyerah pada nasib atau berusaha memperbaiki nasib?
Menyerah pada cinta atau menyerahkan cinta ada-Nya?
Jangan selalu menjadi manusia yang pandai menyalahkan orang lain atas hal buruk yang terjadi dalam hidup kita , apalagi sampai menyalahkan Allah. Kita semua di anugerahi akal untuk berfikir, untuk menimbang apa saja kemashlahatan dan kemudharatan yang akan kita tanggung ketika kita hendak memilih atau melangakah.
So.. Awali dengan cara Islam, jalani dengan aturan Islam .. Semoga kita mendapat akhir yang tentram. So.. Jodoh RAHASIA ALLAH. Kita sebagai hamba hanya bisa mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya agar bisa mencapai puncak keberuntungan. Ikhtiar dan do'a janganlah lupa .. dan tetap menjadikan pesan Rasulullah sebagai kriteria utama memilih dan menerima calon pendamping kita. Karena kehidupan tidak akan berakhir hanya di dunia. Ada kehidupan setelah ini yang lebih abadi, dan apa yang kita kerjakan di dunia inilah iyang menjdi penentu kebahagiaan kita di akhirat kelak.
Wallahu'alam Bi Shawab.
Written by : Ameera 'Afya' Nurjannah.
Jodohku tak Seperti Harapanku
Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan hidup yang sholeh atau sholehah? Siapa yang tidak ingin memiliki pendamping yang berakhlak baik? Seburuk apapun diri kita, pastinya kita ingin pasanganan hidup yang baik. Tetapi tidak setiap orang mendapati kenyataan ini dalam kehidupan.
Ada yang suaminya sungguh baik, tetapi istrinya galak, matre dan tukang gosip. Ada yang istrinya sholehah, tapi suaminya tukang mabuk, suka judi dan bersikap kasar. Atas fenomena ini, mungkin banyak yang bertanya-tanya, kok kesannya jadi nggak adil ya? Orang baik-baik, tapi dapet jodohnya begitu?
Memang jadi sulit dijelaskan. Tetapi jika ingin dipahami, inilah ujian Allah. Sesungguhnya Allah berkehendak membuka ladang amal yang seluas-luasnya bagi diri kita, lewat tingkah polah pasangan hidup kita, yang jauh dari harapan. Alhamdulillah, tidak usah cari jauh-jauh, ladang amal ada di depan mata. Karena pernikahan memang ladang amal soleh. Bagi wanitanya, pun bagi laki-lakinya. Maka bagi yang “tidak beruntung” dengan pasangan hidup yang tidak sholeh atau sholehah, mudah-mudahan tetap dapat memberi pelayanan yang terbaik bagi pasangannya, dengan harapan semoga mendapat ridho Allah dan semoga kelak mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya.
Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, mari mengevaluasi diri. Apa sesungguhnya niat kita ketika hendak menikah? Mudah-mudahan, jawaban dari pertanyaan itu, dapat memperbaiki mood kita yang buruk karena pasangan hidup tidak sesuai harapan.
Jika benar kita meniatkan pernikahan sebagai ibadah atau sarana pengabdian kita kepada Sang Khalik, maka semestinya pelayanan kita terhadap pasangan hidup kita, tidak ada embel-embelnya. Artinya, mau dia bertingkah seperti apapun tidak jadi masalah, karena pasangan hidup hanya sarana untuk mengabdi kepada Allah. Fokus dan tujuan kita adalah Allah. Jika ternyata pasangan hidup kita adalah pribadi yang sholeh/ah, maka itu adalah bonus.
Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, sebelum berputus asa, mungkin ada baiknya kita merenung kembali. Tidakkah kita terlalu meninggikan kriteria bagi pasangan hidup kita? Sikap berharap secara berlebihan terhadap pasangan hidup, berpotensi menyebabkan rumah tangga tidak berjalan dengan baik. Karena pola pikir yang tertanam dalam diri kita adalah menerima kebaikan, bukan keinginan untuk saling mengisi dan memperbaiki satu sama lain.
Semakin tinggi standard yang kita tetapkan, maka akan semakin besar potensi kita untuk kecewa. Karena semakin tinggi standard, semakin terlihat jelas jika terjadi hal-hal yang melenceng dari standard.
Memiliki harapan tinggi boleh-boleh saja. Tapi, sebelum kita bermimpi mendapatkan suami seperti Rasulullah, lebih baik kita berkaca diri, sudahkah kita seperti Ibunda Khadijah r.ha? Sebelum berharap memiliki istri seperti Fatimah Az-Zahra r.ha, lebih baik kita bercermin, sudahkah kita seperti Ali bin Abi Thalib r.a?
Jadi, berprasangka baiklah kepada Allah, kemudian berserah diri. Jangan mendikte Allah tentang jodoh kita. Percaya, bahwa Allah memberi kita yang terbaik sesuai dengan penilaian Allah terhadap diri kita. Yakin, Allah tahu yang paling cocok untuk diri kita. Kemudian berserah diri dan bersabar dengan jodoh pilihan dari Allah. Insya Allah, ini akan lebih menenangkan batin dan membuka pintu keikhlasan.
" Pilihan Allah mungkin tak seindah inginmu, tapi itulah pilihan-Nya. Mungkin kebaikan itu tidak teletak pada orang yang kau pilih melainkan pada jalan yang kau pilih dengan tidak Pacaran, atau mungkin kebaikan itu ada pada keikhlasan kita menerima segala ketentuan-Nya dan selalu berprasangka baik pada-Nya"
Ilovislam.com
Ada yang suaminya sungguh baik, tetapi istrinya galak, matre dan tukang gosip. Ada yang istrinya sholehah, tapi suaminya tukang mabuk, suka judi dan bersikap kasar. Atas fenomena ini, mungkin banyak yang bertanya-tanya, kok kesannya jadi nggak adil ya? Orang baik-baik, tapi dapet jodohnya begitu?
Memang jadi sulit dijelaskan. Tetapi jika ingin dipahami, inilah ujian Allah. Sesungguhnya Allah berkehendak membuka ladang amal yang seluas-luasnya bagi diri kita, lewat tingkah polah pasangan hidup kita, yang jauh dari harapan. Alhamdulillah, tidak usah cari jauh-jauh, ladang amal ada di depan mata. Karena pernikahan memang ladang amal soleh. Bagi wanitanya, pun bagi laki-lakinya. Maka bagi yang “tidak beruntung” dengan pasangan hidup yang tidak sholeh atau sholehah, mudah-mudahan tetap dapat memberi pelayanan yang terbaik bagi pasangannya, dengan harapan semoga mendapat ridho Allah dan semoga kelak mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya.
Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, mari mengevaluasi diri. Apa sesungguhnya niat kita ketika hendak menikah? Mudah-mudahan, jawaban dari pertanyaan itu, dapat memperbaiki mood kita yang buruk karena pasangan hidup tidak sesuai harapan.
Jika benar kita meniatkan pernikahan sebagai ibadah atau sarana pengabdian kita kepada Sang Khalik, maka semestinya pelayanan kita terhadap pasangan hidup kita, tidak ada embel-embelnya. Artinya, mau dia bertingkah seperti apapun tidak jadi masalah, karena pasangan hidup hanya sarana untuk mengabdi kepada Allah. Fokus dan tujuan kita adalah Allah. Jika ternyata pasangan hidup kita adalah pribadi yang sholeh/ah, maka itu adalah bonus.
Jika kita merasa tidak beruntung terhadap pasangan hidup kita, sebelum berputus asa, mungkin ada baiknya kita merenung kembali. Tidakkah kita terlalu meninggikan kriteria bagi pasangan hidup kita? Sikap berharap secara berlebihan terhadap pasangan hidup, berpotensi menyebabkan rumah tangga tidak berjalan dengan baik. Karena pola pikir yang tertanam dalam diri kita adalah menerima kebaikan, bukan keinginan untuk saling mengisi dan memperbaiki satu sama lain.
Semakin tinggi standard yang kita tetapkan, maka akan semakin besar potensi kita untuk kecewa. Karena semakin tinggi standard, semakin terlihat jelas jika terjadi hal-hal yang melenceng dari standard.
Memiliki harapan tinggi boleh-boleh saja. Tapi, sebelum kita bermimpi mendapatkan suami seperti Rasulullah, lebih baik kita berkaca diri, sudahkah kita seperti Ibunda Khadijah r.ha? Sebelum berharap memiliki istri seperti Fatimah Az-Zahra r.ha, lebih baik kita bercermin, sudahkah kita seperti Ali bin Abi Thalib r.a?
Jadi, berprasangka baiklah kepada Allah, kemudian berserah diri. Jangan mendikte Allah tentang jodoh kita. Percaya, bahwa Allah memberi kita yang terbaik sesuai dengan penilaian Allah terhadap diri kita. Yakin, Allah tahu yang paling cocok untuk diri kita. Kemudian berserah diri dan bersabar dengan jodoh pilihan dari Allah. Insya Allah, ini akan lebih menenangkan batin dan membuka pintu keikhlasan.
" Pilihan Allah mungkin tak seindah inginmu, tapi itulah pilihan-Nya. Mungkin kebaikan itu tidak teletak pada orang yang kau pilih melainkan pada jalan yang kau pilih dengan tidak Pacaran, atau mungkin kebaikan itu ada pada keikhlasan kita menerima segala ketentuan-Nya dan selalu berprasangka baik pada-Nya"
Ilovislam.com
Langganan:
Postingan (Atom)